Cegah Stunting

Pentingnya Zat Gizi Makro dan Mikro untuk Cegah Stunting

sumber

Zat gizi secara garis besar terbagi menjadi zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro adalah karbohidrat, protein dan lemak. Zat ini dibutuhkan dalam jumlah besar. Sedangkan zat gizi mikro dibutuhkan dalam jumlah kecil, walaupun kebutuhannya sedikit namun tidak boleh disepelekan. Zat ini terdiri dari berbagai vitamin dan mineral. Nah zat gizi makro dan mikro ini sama-sama penting untuk cegah stunting.

Apa itu Stunting?

sumber

Stunting sebenarnya adalah kondisi kekurangan gizi kronis yang disebabkan karena:

  1. Faktor nutrisi yang tidak memenuhi kebutuhan
  2. Faktor berat badan lahir rendah
  3. Faktor penyakit infeksi berulang
  4. Faktor stimulasi dan pengasuhan anak kurang tepat (Wamani et al.,2007)

Pentingnya Zat Gizi Mencegah Stunting

Semua zat gizi penting dan dibutuhkan untuk kelangsungan hidup kita. Baik untuk memenuhi kebutuhan dasar tubuh seperti bernafas, menjalankan kerja jantung memompa darah, berfikir, duduk, tidur serta aktifitas lainnya.

Dr. dr. Dian Novita Chandra, M. Gizi, staf pengajar dari Departemen Ilmu Gizi FKUI mengatakan bahwa stunting merupakan suatu kondisi pertumbuhan tinggi badan anak yang terhambat atau perawakan pendek yang merupakan manifestasi kronis dari kekurangan gizi atau mengalami kekurangan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Pasokan Gizi yang Cukup

Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat memerlukan asupan gizi untuk mencukupi kebutuhannya. Bila pasokan gizi kurang, tubuh anak akan melakukan penyesuain, karena pada usia pertumbuhan, tubuh anak masih bersifat mudah menyesuaikan diri.

Jika dalam 2 tahun awal asupan gizinya kurang, maka tubuhnya yang akan beradaptasi dengan lingkungannya misalnya turunnya kemampuan kognitif, mengurangi ukuran tubuh, dll. Kekurangan energi dan zat gizi juga akan memaksa proses metabolisme tubuh untuk beradaptasi sehingga berisiko meningkatkan penyakit-penyakit metabolik di masa dewasa, antara lain diabetes, obesitas, dan darah tinggi. Sehingga dapat disimpulkan, stunting akan berdampak pada kualitas hidup seorang anak di masa dewasanya.

1000 Pertama Kehidupan Anak

Apabila pada masa ini terjadi malnutrisi atau kekurangan zat gizi maka efeknya akan lebih susah diatasi. Jadi bila sudah melewati seribu pertama kehidupan, tingkat keberhasilan perbaikan relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan masa sebelum selesai seribu hari pertama kehidupannya.

Pemenuhan gizi, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, menjadi upaya pertama dalam menghindari stunting. Pemenuhan gizi tersebut meliputi gizi selama kehamilan dan masa kanak-kanak hingga usia dua tahun. Kesehatan ibu hamil dan anak juga harus dijaga dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga mengurangi kekerapan terjadinya infeksi pada ibu hamil dan masa kanak-kanak.

Pemantauan tumbuh-kembang anak secara berkala juga perlu dilakukan, baik sejak dalam kandungan, setiap bulan setelah kelahiran hingga berusia dua tahun, kemudian 6–12 bulan setelah berusia dua tahun, agar dapat segera dideteksi bila terjadi keterlambatan pertumbuhan untuk diintervensi.

Kekurangan Gizi pada 1000 Pertama Kehidupan Anak

Perubahan permanen inilah yang menimbulkan masalah jangka panjang. Mereka yang mengalami gizi pada 1000 hari pertama kehidupan akan mempunyai 3 resiko:

  1. Resiko tejadinya penyakit tidak menular/ degeneratif, tergantung organ yang terkena dampaknya.
  2. Bila otak yang terkena maka akan mengalami hambatan pertumbuhan kognitif, sehingga mengakibatkan kurang cerdas dan kurang kompetitif.
  3. Gangguang pertumbuhan tinggi badan, sehingga beresiko pendek/stunting.

Keadaan ini ternyata tidak hanya bersifat antar-generasi (dari ibu ke anak) tapi juga trans-generasi (dari nenek ke cucu).

Angka Kecukupan Gizi (AKG)

Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dievaluasi dan direvisi dalam kurun waktu tertentu. Dalam tabel AKG tersebut kita bisa melihat berapa besar kebutuhan gizi mulai dari bayi sampai lansia, bahkan ada pembagiannya per rentang usia dan jenis kelamin.

Dengan memperhatikan besaran nilai AKG tersebut kita bisa mencegah terjadinya kekurangan gizi pada anak-anak Indonesia yang berakibat meningkatnya stunting. Selain itu juga bisa meminimalisir keluhan seperti, “kenapa ya anakku kok berat badannya irit banget?” (nah standar kebutuhannya saja ngga terpenuhi, gimana mau naik, yekan?), “kenapa sih anakku ngga doyan makan?” (banyak faktornya juga sih, seperti perubahan yang mendadak, tekanan dari ortu untuk makan padahal ngga berselera, atau anemia).

Pada umumnya untuk dewasa nilai AKG yang diperlukan ada di kisaran 20000 kalori, sedangkan bayi 0-6 bulan dimulai dari kisaran 550 kalori yang cukup dipenuhi dengan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun. Untuk balita maka nilai AKG yang diperlukan ada di kisaran 1125 bagi anak 1-3 tahun hingga 1600 bagi anak 4-6 tahun.

Nah, dari AKG tersebut kita bisa menghitung kebutuhan energinya berapa, lemak dan karbonya berapa. Kalau kita perhatikan lebih lengkap tabel AKG tersebut kita bahkan bisa menemukan rekomendasi kebutuhan untuk mikro nutrien seperti bvitamin dan mineral.

Yuk, cukupi Angka Kecukupan Gizi (lihat AKG) anak untuk menghindari stunting 🙂

*resume telegram Pramitha Sari (Dietisien, Konselor Laktasi – MPASI)

lintanggg

Lintang Gumilang adalah seorang ibu pembelajar yang jatuh cinta pada literasi dan gila membaca. Penulis kelahiran asli kota Malang ini memang hobi menulis lewat diary, sampai akhirnya punya platform blog sendiri yang berisi uneg-uneg recehnya selama hampir 10 tahun. Saat ini sangat bersyukur bisa menulis dan menerbitkan 14 antologi dengan harapan agar tulisannya bisa bermanfaat bagi semua pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *