Apa bayangan ibu-ibu mendengar kata jelantah? Pasti nggak jauh-jauh dari minyak kotor, dekil, ngga bisa dipakai lagi karna bikin tenggorokan gatel. Jadi harus segera dibuang sejauh mungkin. Nah kan. Bagi saya dulu, jelantah adalah tetesan surga. Halah. Eh beneran loh. Karena saya bener-bener mencari sisa jelantah agar bisa mengantarkan saya menjadi Ahli Madya. Karena minyak jelantah yang kami teliti saat itu ternyata memang berpotensi menjadi biodiesel. Wah keren kan. Ternyata ada lho gerakan sedekah jelantah. Mau tau?
Baca Juga: Pentingnya Zat Gizi Makro dan Mikro untuk Cegah Stunting
Gerakan Sedekah Jelantah
Nyatanya hingga saat ini memang jelantah hanya dipandang sebelah mata. Hanya beberapa orang yang sudah menemukan nilai gunanya dan mau bersusah payah menyulap jelantah agar bisa bermanfaat lagi. Masih banyak rumah-rumah yang belum mau mengolah limbah minyak jelantah rumah tangga mereka. Kalau satu rumah saja yang membuang jelantah mereka ke wastafel memang ‘terlihat’ sedikit, tapi bayangkan kalau se-RT, se-kecamatan, tukang gorengan, warung-warung, semua rumah se-kota membuang jelantah mereka semena-mena, semua yang awalnya sedikit pun akan terakumulasi dan jelas mencemari badan air. Hal ini yang akan mengganggu makhluk hidup dan ekosistem sungai-laut. Mau sampai kapan hal ini berlangsung?