
Beberapa hari lalu aku ikut sebuah sesi Zoom yang ngebahas tentang COP30, sebuah konferensi besar tentang iklim yang bakal digelar di Brasil pada 10-21 November 2025 nanti. Jujur, awalnya aku cuma bingung dan bengong. Banyak istilah diplomatik seperti NDCs, Perjanjian Paris, sampai Baku-Belém Roadmap.
Perlahan aku mulai nyimak, dan sadar: ini bukan cuma urusan negeri lain. Ini tentang kitas semua —tentang Indonesia, tentang rumah yang sama-sama kita tinggali: bumi.
Apa itu COP, dan Kenapa Dunia Ribut Soal Ini?

COP atau Conference of the Parties adalah pertemuan tahunan di bawah naungan PBB yang membahas cara dunia menghadapi perubahan iklim. Pertama kali diadakan di Berlin tahun 1995, COP udah jadi forum global tempat negara-negara saling debat, bernegosiasi, dan (mudah-mudahan) benar-benar menjalankan komitmennya untuk menyelamatkan bumi.
Dari COP lahir kebijakan besar seperti Protokol Kyoto (1997), Perjanjian Paris (2015), dan Dana Kerugian & Kerusakan (Loss and Damage Fund) di tahun 2022-2023.
Nah, COP30 akan jadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya digelar di Belém, Brasil, jantung hutan Amazon—paru-paru dunia yang selama ini jadi simbol perlawanan terhadap deforestasi.
Baca Juga: Jaga Semesta Alirkan Mata Air dari Jawa untuk Kehidupan
Seberapa Penting COP30 Buat Indonesia?
Tak bisa dimungkiri kalau Brasil dan Indonesia itu kembar ekologi. Keduanya punya hutan tropis terbesar du dunia, biodiversitas yang luar biasa, dan tentu saja tantangan yang sama: menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan kelestarian alam.
Brasil pernah disorot karena isu minyak di muara Sungai Amazon. Indonesia juga tak luput dengan PR besarnya terkait: deforestasi, tambang nikel, sawit, dan energi fosil yang masih dominan.
Padahal, ingatkah janji kita tentang zero deforestation dan net zero emission sebelum 2030? Janji manis di atas kertas memang mudah, namun bumi butuh aksi nyata, tak hanya slogan di podium!
Antara Janji dan Realita: Dari Amazon ke Kalimantan

Cinthia Leone, Climate Diplomacy Coordinator ClimaInfo, menyebutkan salah satu agenda besar di COP30 nanti adalah peluncuran siklus baru dari NDCs—Nationally Determined Contributions, alias target tiap negara untuk menurunkan emisi karbon. Bahasa simpelnya: setiap negara harus memperbarui komitmen mereka dalam melindungi bumi.
Kalau Brasil berbicara lewat Amazon, kita bicara lewat Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Hutan kita ini bukan hanya sekadar pemandangan hijau di peta, namun sumber kehidupan, tempat masyarakat adat bergantung, dan benteng terkahir kita melawan krisis iklim.
Sayangnya, hutan berkali-kali dibuka, sungai setiap hari dikotori, izin tambang disetujui tanpa kajian, dan kita perlahan kehilangan harapan. Bagaimana nasib bumi pertiwi ini esok hari?
Baca Juga: Bicara Karhutla, Lakukan Aksi Nyata dari Langkah Sederhana
Krisis Iklim Adalah Krisis Imajinasi

Kalimat ini diucapkan oleh Cinthia Leone saat Zoom kemarin,
“Krisis Iklim bukan cuma soal data, tapi juga soal imajinasi dan komunikasi.”
Artinya, angka suhu global 1,5°C mungkin terdengar jauh, tapi kalau diceritakan lewat kisah nyata—petani di Jawa gagal panen karena cuaca ekstrem, nelayan di pesisir kehilangan rumah karena laut naik, barulah orang bisa merasakan dampaknya.
Di sinilah aku percaya, peran kita sebagai penulis, kreator, dan komunikator menjadi sangat penting. Kita bisa lho menjembatani bahasa ilmiah dunia diplomasi ke dalam bahasa ringan yang mudah dipahami, tentu aja juga menyentuh hati. Karena perubahan besar sering kali dimulai dari cerita yang bikin orang menjadi peduli.
Hati-Hati Gelombang Disinformasi Iklim

Dari layar kecil di rumah, aku ikut menyimak bagaimana dunia bersiap membicarakan masa depan bumi. Sebagai blogger EBS yang sering menyuarakan keresahan masalah lingkungan, tentu aku ngga bisa tinggal diam untuk berteriak lantang menyelamatkan masa depan bumi.
Sayangnya dibalik semua harapan tentang kerja sama global dan janji “net zero”, ada satu kenyataan pahit yang juga dibahas saat Zoom: gelombang disinformasi iklim yang makin deras menjelang konferensi akbar ini.
Semua pihak berharap muncul komitmen baru atau istilah resminya NDCs (Nationally Determined Contributions) untuk menekan pemanasan global tetap di bawah 1,5°C. Pembicaraan tentang transisi adil, dana raksasa 1,3 triliun dolar untuk iklim, dan janji setiap negara untuk berbuat lebih baik.
Brasil ingin menunjukkan bahwa mereka bisa memimpin dari jantung hutan Amazon. Indonesia juga diharapkan menjadi rekan se-Amazon, penjaga hutan tropis yang sama pentingnya.
Tapi siapa sangka, di balik layar diplomasi itu, ada pertempuran lain yang tak kalah penting: perang melawan kebohongan.
Serukan Kebenaran, Serukan Kebenaran Fenomena Disinformasi Iklim

Dalam presentasi yang disampaikan Thais Lazzeri, Founder and Director of FALA, satu kalimat langsung nyantol di kepalaku:
“Kebohongan menyebar 70% lebih cepat daripada kebenaran.”
Hal ini bukan hanya metafora belaka. Pada kenyataannya, di Brasil menjelang COP30, 30 dari 100 posting paling viral pada media sosial tentang konferensi ini berisi disinformasi!
Bayangin deh: satu kebohongan bisa menjangkau jutaan orang lebih cepat daripada satu klarifikasi ilmiah.
FALA menyebut fenomena ini sebagai “disinformasi iklim” — narasi palsu yang sengaja diciptakan untuk menunda aksi, menanam keraguan, dan membuat publik bingung.
Bentuknya bisa macam-macam: ada yang bilang “perubahan iklim cuma siklus alam”, ada yang menuduh konferensi seperti COP cuma ajang elit global, ada juga yang menyebar teori konspirasi bahwa semua ini rekayasa demi kepentingan politik.
Dan yang paling mengerikan, banyak dari pesan itu dikemas cantik, lengkap dengan grafik, videom dan bahasa emosional. Gongnya adalah di era algoritma, yang viral bukan yang benar, tapi yang paling sensasional.

Salah satu contoh yang dipaparkan Rafael de Pino, Journalist & Project Manager, adalah klaim viral di Brasil yang bilang, “Ada 5.000 proyek pembangunan terhenti karena izin lingkungan.”
Padahal data itu tidak pernah ada!
Namun karena sering diulang oleh politisi dan media, kebohongan itu dipakai menjadi alasan untuk melonggarkan aturan lingkungan.
Gila sih! satu hoaks kecil bisa lho mengubah arah kebijakan nasional.
Di sinilah bahayanya: disinformasi bukan cuma membodohi, tapi mempengaruhi keputusan yang menentukan masa depan bumi.
Peran Kita: Menyaring, Menulis, dan Menyala

Mata dunia sedang tertuju di Belém untuk melanjutkan misi penyelamatan bumi. Namun di saat yang sama, perang informasi sedang bergelut di layar kita masing-masing. Dan mungkin, senjata paling sederhana tapi paling kuat untuk melawan kebohongan adalah tulisan.
Kita butuh lebih banyak orang yang menulis, menjelaskan, dan menceritakan isu iklim dengan cara yang bisa dipahami semua orang.
Karena disinformasi tumbuh subur di tempat yang sunyi, tempat di mana kebenaran berhenti disuarakan.
Saat dunia berkumpul di Belém, aku berharap tak hanya lahir janji baru dari para pemimpin, tapi juga kesadaran baru dari kita semua.
Bahwa menjaga bumi tak cukup dengan menanam pohon atau mengurangi plastik, tapi juga dengan melindungi kebenaran.
“A COP é um marco, não o fim.”
(COP itu tonggak, bukan akhir)
Karena kadang, bumi butuh bukan hanya penyelamat, tapi juga penjaga cerita yang benar. Karena tanpa kejujuran, tonggak itu akan tumbang sebelum sempat berakar.
Dan mungkin, lewat tulisan sederhana seperti ini, aku cuma mau bilang: bumi ini butuh kita semua. Dari Belém ke Kalimantan, dari Amazon ke rumahmu—semuanya terhubung oleh satu hal: harapan.






Kalau bahasan keselamatan bumi, semua penghuninya tentu ikut andil dan bertanggung jawab ya. Bukan hanya negara tertentu atau pihak mana saja.
Apalagi sekarang dampak dari perubahan iklim itu kan sangat kita rasakan. Banjir, longsor, angin puting beliung, semua sangat merusak kita penghuni bumi ini
Harus bareng-bareng emang buat menjaga bumi, butuh proses yang ngga instan. Tapi harus segera dimulai!
Menarik banget ketika dunia ‘berkumpul’ di Belém—seolah ngundang kita untuk melihat sudut lain dari perjalanan, bukan cuma destinasi
Mengerikan sekali ya gelombang disinformasi iklim! Ternyata kebohongan seperti ini bisa memgubah kebijakan nasional. Berarti persoalan dunia tentang iklim mesti benar berdasarkan data dan laporan asli. Wah, iya ya ekologi di kedua negara (Indonesia dan Brasil) memang hampir sama. COP 30 ini harus disososialisasikan lebih lanjut agar masyarakat tahu. TFS ya.
Nah makanya mbaa, kalau kita gampang termakan hoaks dan ngga filter informasi juga bahaya banget. Huhuu.
1 Hoax kecil bisa mengubah kebijakan nasional, dan pastinya hoax yang benar-benar disiapkan agar terlihat sangat benar alias seperti itulah nyatanya memang. Hmm… Ngomongin iklim dan lingkungan, kita generasi saat ini punya kewajiban melestarikan dan menjaganya untuk anak cucuk kita. Mereka juga punya hak untuk alam seperti kita.
Semoga semua bisa bergerak bersama dalam langkah nyata, bukan hanya dunia maya dan di atas kertas semata.
Ngeri banget ya sekarang. Media ini perannya besar banget dalam memberikan informasi. Kita nggak boleh kalah nih. Apalagi sebagai penulis, senjata kita adalah tulisan. Saatnya bersuara demi paru-paru Dunia.
Iya mbak, sangat disayangkan sekali, hutan di Indonesia banyak yang rusak karena kebijakan pemerintahnya sendiri yang nggak jelas.
Kalau ada forum COP kek gini dan bisa “menekan” pemerintah Indonesia buat mengkaji kebijakannya soal membabat hutan menurutku gpp. Biarin aja dikatain antek2 asing hahaha asalkan emang pemerintah bener jagain hutan kita.
Weleh, emang keknya zaman sekarang usaha melindungi alam pun keknya perlu melawan buzzer yang menyebar hoaks ya haha.
Makanya yang punya sosmed sebaiknya memanfaatkan dengan baik, tetap berisik masalah lingkungan hidup, minimal supaya banyak yang mengawasi juga.
Iyaaaa, apalagi sekarang eranya kan pada main sosmed, jadi lebih baik kita ikutan bersuara lewat sosmed gapapa.
Terus berisik buat masa depan bumi lebih baik.
Aku setuju 100% sama poin “Krisis Iklim Adalah Krisis Imajinasi.” Selama ini bahas iklim kerasa jauh, padahal dampaknya sudah di depan mata. Soal gelombang disinformasi itu ngeri ya, kayaknya kita nggak cuma perlu aksi nyata tapi juga ‘senjata’ literasi buat melawan hoaks. Semoga dari Belém lahir aksi nyata, bukan cuma janji di atas kertas. Keren
Memang ya disinformasi tentang perubahan iklim tuh benar-benar seperti bola liar ya, aku aja sempat terbawa emosi, untungnya gak berapa lama tahu kalau berita tersebut hoax. Memang harus pintar2 kita dalam menyaring berita yess, jangan sampai berita yang kita bagikan justru menambah beban bumi untuk lestari…
Saya menyadari betul kekuatan sebuah tulisan. Namun, saya baru tahu ternyata kekuatannya ternyata sedahsyat itu dalam menghalau disinformasi di dunia kelestarian lingkungan. Satu tulisan bisa membuka ribuan mata pada fakta yang terdistorsi.
Mestiñya udah dari dulu-dulu kita bergerak serius jaga hutan.
Isu lingkungan ditabrakkan dengan kepentingan pengusaha jadi kabar hoax yang muncul. Semoga dengan adanya konferensi di Belem ini bukan hanya sekadar menjaga lingkungan namun juga menjaga informasi agar tetap subjektif dan tidak melenceng dari kebenaran.
Aku kemarin udah kayak apaan sih COP ini, kirain bakal ngomongin yang berat2 wkwkwk ternyata yaa sesuatu yang memang sudah dekat dgn kita sedekat nadi, eaaak. Isu iklim kalo dianggap ga dekat dengan kita yaa orangnya aj mungkin yg ga peka yaa. Semoga kesepakatan di COP nanti membuahkan hasil maksimal dan seperti yang diinginkan.
Soal gelombang disinformasi itu ngeri ya, kayaknya kita nggak cuma perlu aksi nyata tapi juga ‘senjata’ literasi buat melawan hoaks. Semoga dari Belém lahir aksi nyata, bukan cuma janji di atas kertas. Keren
Wahh gokil ni ceritanya jdi banyak pengetahuan
berbicara iklim ternyata tidak hanya tentang lingkungan yaa, ada peran besar digital dan disinformasi yang justru menyebar lebih cepat, ngerii! peran prefentiv kita semua akan sangat membantu sekecil apapun itu untuk tetap menjaga bumi
Artikelnya tidak membosankan dari awal sampai akhir.
Artikel ini penting banget! bikin saya makin sadar kalau konferensi seperti COP30 bukan cuma urusan negara lain, tapi menyangkut masa depan bumi kita bersama
Pembahasan yang menarik! Konferensi di Belem ini pasti jadi sorotan karena mengangkat isu Amazon yang krusial. Aku setuju, kolaborasi global itu kunci, tapi peran masyarakat lokal dan adat seringkali jadi penentu keberhasilan di lapangan.
Informasi tentang pertemuan dunia di Belem ini sangat menarik. Penulis berhasil mengemas topik berat jadi enak dibaca
isu iklim ini seharusnya semakin ramai dibahas agar masyarakat lebih aware
wahh makasihh kak udah sharing artikel se insightfull ini
artikelnya bagus sekali, buat kita jadi sadar akan isu lingkungan
Tulisannya ngena dan bikin berasa ikut hadir di sana. Deskriptifnya keren banget!
artikelnya bermanfaat sekali ka
Penting nya baca berita lewat artikel artikel ini, dengan artikel ini saya jadi tau berita tentang COP30
Artikel ini keren banget, bikin saya sebagai anak muda lebih sadar kalau isu iklim itu bukan hal yang jauh dari hidup kita.
Wah, keren kalau ada cerita tentang pertemuan banyak budaya atau orang dari berbagai tempat.