
Pulau Jawa lahir dari cerita tua yang lembap dan hijau, di mana air adalah napas pertama kehidupan. Dari lereng gunung, air menetes jadi sungai, menyelinap jadi kolam, dan menyatu jadi samudra.
Orang Jawa kuno menatap air bukan sebagai elemen alam biasa, melainkan sebagai titisan sakral, dan lambang kesucian.
Dalam budaya Jawa, sumber air juga berkaitan dengan tirtha (air suci) yang tak hanya memenuhi kebutuhan fisik, namun juga media spiritual yang menghubungkan manusia dengan leluhur, dan alam kehidupan.
Sejarah Jawa pun lekat dengan air dan irigasi. Kerajaan-kerajaan Jawa sejak era Hindu-Budha hingga Mataram Islam membangun sistem kanal, bendungan, dan saluran air guna mengairi sawah.
Tanah Jawa yang padat penduduk ini menyimpan keunggulan alam berupa perbukitan dan cekungan yang memencarkan aliran air. Tapi justru itu kita harus hati-hati: ketika hulu rusak, mata air pun akan mengering.
Jejak Air di Tanah para Leluhur
Sejak berabad-abad silam, masyarakat Jawa hidup dalam irama air. Tak ada ladang tanpa irigasi, tak ada rumah tanpa sumur, tak ada upacara tanpa percikan air. Dalam prasasati dan naskah kuno, air disebut tirtha, toya, atau patirtan. Bukan hanya sekadar kebutuhan jasmani namun jembatan bagi rohani.
Lihatlah petirtaan Belahan di lereng Penanggungan, tempat air mengalir dari payudara arca Dewi Laksmi—simbol kasih tanpa batas seorang ibu yang menghidupi bumi. Di Magelang, ada mata air Ndas Gending, diyakini sebagai titik suci tempat manusia pertama menjejak bumi. Di Purbalingga, tradisi Grebeg Onje mengajarkan kearifan: air dari tujuh mata air dikumpulkan menjadi satu kendi besar, lambang kesatuan hidup dan harapan.

Air adalah guru yang sabar— mengalir tanpa pamrih, memberi tanpa henti.
Namun zaman pun berubah, hutan yang rimbun kian menipis, sumber air yang jernih berubah keruh. Di banyak tempat di Tanah Jawa, yang menjadi pusat ekonomi sekaligus rumah bagi 150 juta penduduk— ancaman krisis air mulai terasa nyata.
Air Kian Susut, Nurani Pun Kian Haus
Berdasarkan data Bappenas RI dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Sosial 2020-2024, Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis air pada tahun 2040, khususnya Pulau Jawa. Luas wilayah kritis air diperkirakan akan terjadi peningkatan dari 6% pada tahun 2000 menjadi 9,6% pada tahun 2045.
Pulau terpadat di Indonesia ini agaknya mulai merasa engap, di sisi lain permintaan air terus meningkat tajam. Sementara cadangan air tanah menurun drastis akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Sungai-sungai yang dulu mengalir deras, kini kering di musim kemarau, dan meluap saat hujan datang.

“Pulau Jawa diprediksi bakal mengalami krisis air di tahun 2040, ya bukan airnya ngga ada. Melainkan nantinya masyarakat akan kesulitan untuk mengakses air bersih karena biaya pengelolaan air bakal naik, jadinya harga air akan mahal,” sebut Fainta Negoro, founder Jagat Semesta, dalam sebuah sesi wawancara.
Akankah kita pura-pura lupa, setiap batang pohon yang tumbang adalah napas air yang hilang. Setiap lahan yang dibuka tanpa bijak, menghapus satu mata air dari jejak kehidupan.
Jaga Semesta: Mengalirkan Mata Air demi Mata Air
“Sudah sejak tahun 2016, saya meriset data krisis air. Pada 2022 lalu saya periksa lagi, masih tidak ada penurunan risiko, kok malah bertambah parah. Ternyata tidak ada tindakan nyata. Inilah yang memantik ide inisiasi komunitas Jaga Semesta. Ternyata butuh pendekatan berbeda untuk mencegah terdampak krisis air pada 2040 di Pulau Jawa. Kita butuh pendekatan masyarakat.”
(Fainta Negoro)
Kondisi yang memprihatinkan ini memicu Fainta Negoro menggagas gerakan Jaga Semesta. Organisasi ini dikelola bersama sejumlah relawan, akademisi, dan warga.

“Kami melihat gerakan yang umum aja, misalnya membersihkan sungai dan menanam pohon, Tapi yang peduli dengan pelestarian mata air itu jarang sekali. Bahkan, tentang bagaimana air itu terbentuk, apa saja yang memengaruhi keberadaannya juga ngga banyak yang tahu,” ujar penggerak Jaga Semesta ini.
Berbekal keresahan kondisi mata air di Pulau jawa, Jaga Semesta mengawali perjalanan dengan berkeliling tanah Jawa selama tiga bulan bersama para relawan. Mereka memantau ratusan mata air, melakukan dokumentasi, dan melakukan pendataan.
Di Pasuruan, debit mata air utama turun drastis dari 6.000 liter per detik menjadi 2.500 liter per detik. Pasalnya lebih dari 700 sumur artesis dan konversi lahan alih fungsi menjadi kebun hortikultura. Dampaknya memang menyusutkan mata air pegunungan karena lahan hutan diganti tanaman perkebunan.
Hal ini tentu memaksa warga bergantung pada sumur bor dan PDAM. Bukan tidak mungkin, cadangan air tanah semakin mengering hari demi hari. Krisis ini yang mendorong tim Jaga Semesta menempuh langkah edukasi dan restorasi.

“Jaga Semesta sudah berhasil merestorasi empat mata air yang ada di Blitar pada 2023 lalu. Selain itu di Mojokerto, dan Boyolali. Angka yang melebihi target awal kami sih, padahal cuma berencana merestorasi satu mata air aja tiap tahun,” tutur Fainta.
Satukan Gerak, Gandeng Warga

“Jaga Semesta memprioritaskan kerja sama dengan warga setempat dalam memilih mata air yang dipantau. Sebelum kami datang ke lokasi, warga lokal yang melakukan assessment (penjajakan) awal mengenai keadaan sumber mata air yang dilaporkan secara daring pada tim kami,” tukas Fainta.
Dalam asesmen awal ini, Jaga Semesta memberikan support edukasi teknis perawatan dan konservasi mata air secara daring. Kami selalu mendorong warga setempat untuk selalu diskusi dan melakukan konservasi secara gotong royong.
Fainta melanjutkan, “Jadi kalau terjadi sesuatu pada mata air, warga bisa secara mandiri melakukan konservasi tanpa bergantung lagi pada tim Jaga Semesta seperti di Boyolali dan Mojokerto.”
Selesai tahap pemantauan, akan disepakati titik tertentu untuk konservasi. Langkah selanjutnya, tim Fainta akan mengumpulkan relawan dari berbagai daerah. Mereka semua akan saling bantu dalam upaya melakukan konservasi mata air.

Metode konservasi sumber mata air yang dilakukan menggunakan metode vegetatif dan metode mekanis.
Metode vegetatif yaitu menanam tumbuhan dan membudidayakan hewan endemik. Sedangkan metode mekanis dilakukan bersama warga setempat yang diawali dengan pembersihan endapan lumpur di mata air, membuat biopori, dan sumur resapan, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan drainase.
Memang tujuannya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kemungkinan krisis air di Jawa. Maka menggerakkan masyarakat untuk mengembalikan sumber mata air yang debitnya mulai surut adalah sebuah langkah nyata keberlanjutan.
Tantangan yang Masih Membayangi
“Komunikasi dengan warga itu butuh waktu,” ujar Fainta.
Perjalanan Jaga Semesta tentu tidak selalu mulus. Dalam langkah-langkahnya menjaga air, mereka juga kerap berhadapan dengan tantangan di lapangan—bukan hanya soal alam, tapi juga soal manusianya.

“Kadang ekspektasi kami dan warga tidak sejalan. Di awal-awal, banyak masyarakat dari berbagai daerah menghubungi kami, berharap kami datang dan mengerjakan semuanya. Mungkin mereka terbiasa melihat di media sosial, ada gerakan datang membersihkan sungai, lalu warga tinggal terima hasilnya. Padahal Jaga Semesta tidak seperti itu.” Fainta menjelaskan, gerakan ini justru menempatkan masyarakat sebagai pemeran utama konservasi.
Warga setempatlah yang seharusnya memimpin perlindungan sumber air di wilayah mereka sendiri. “Kami ingin mereka ikut terlibat sejak awal—melakukan pemetaan sederhana, mengirimkan dokumentasi, menelusuri kondisi mata air dari waktu ke waktu. Hal-hal kecil seperti itu menunjukkan kesungguhan. Karena kalau niatnya tumbuh dari hati warga, mata air akan terjaga lebih lama,” lanjutnya.
Selain soal partisipasi, ketidaktahuan masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Tak jarang tim Jaga Semesta menemukan praktik di lapangan yang bertolak belakang dengan prinsip konservasi.
Ada yang membangun bangunan terlalu dekat dengan sumber air, bahkan ada pula kasus di Blitar—di mana tepat di sisi mata air, berdiri tempat pembuangan sampah dan instalasi pengolahan limbah komunal.
Menjaga dari Hulu, Menghidupi dari Kalbu

Kini, Jaga Semesta telah mengobservasi lebih dari 500 mata air di Jawa. Hasil surveinya juga menjadi basis data kondisi mata air sebagai rujukan semua pihak, termasuk di dalamnya peneliti dan pemerintah daerah.
Jaga Semesta juga memiliki lebih dari 290 relawan, menggalang lebih dari 70.000 pengikut di media sosial untuk edukasi secara daring.
Mereka juga melakukan restorasi dengan memulihkan empat mata air dan meningkatkan debit air hingga 157 juta liter per tahun.
Dalam restorasi ini sendiri melibatkan penanaman pohon kembali, pembersihan mata air, dan revitalisasi struktur penahan air.
Dampak nyata dari gerakan ini mungkin tak selalu bisa dihitung dalam angka, tapi terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sawah-sawah kembali hijau, warga tak lagi berebut air di musim kemarau, dan yang paling berharga — tumbuhnya kesadaran baru. Bahwa semesta bisa pulih jika manusia memberi kesempatan.
Berkat kegigihan, dan kerja keras tim Jaga Semesta, Astra memberikan penghargaan bergengsi Apresiasi SATU Indonesia Awards 2024 kategori lingkungan kepada Melisa Mina, yang mewakili Jawa Barat sebagai penerima apresiasi.
Penghargaan dari Astra ini tentu menjadi dorongan agar aksi ini bisa terus meluas untuk dunia, dan untuk kehidupan berkelanjutan. Harapannya agar lebih banyak orang yang menjaga mata air demi mata air.
Peran dan dukungan pemerintah juga sangat dibutuhkan dalam upaya memberikan edukasi yang tepat untuk masyarakat. Komitmen hukuman tegas bagi siapa saja yang mencemari mata air juga harus ditegakkan.
Jaga Semesta: Mata Air demi Mata Air adalah bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Bahwa keberlanjutan bukan slogan, tapi hasil dari konsistensi, empati, dan kesediaan untuk belajar bersama alam.
“Ketika kita melihat dunia mulai rusak, mungkin sesaat kita merasa gelap. Namun, ketika kamu melihat sekitarmu gelap, bisa jadi kamulah yang dipanggil untuk menyalakan cahayanya. Tak apa berjalan perlahan, tak apa bergerak sedikit demi sedikit — setiap langkah kecil tetap berarti. Satu demi satu mata air, kita lakukan bersama dan pasti bisa. One step at a time, one spring at a time,” tutup Fainta.
#SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia #APA2025-PLM
Referensi:
Greeners.co. (2024). Komunitas Jaga Semesta Lindungi Mata Air Demi Cegah Krisis Air 2040. https://www.greeners.co/aksi/komunitas-jaga-semesta-lindungi-mata-air-demi-cegah-krisis-air/
Good News From Indonesia. (2025, 4 Oktober). Jaga Semesta: Mata Air demi Mata Air di Tanah Jawa. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/10/04/jaga-semesta-mata-air-demi-mata-air-di-tanah-jawa/
Green Network Asia. (2024). Upaya Jaga Semesta Cegah Krisis Air di Pulau Jawa Melalui Konservasi Mata Air Berbasis Masyarakat. https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/upaya-jaga-semesta-cegah-krisis-air-di-pulau-jawa-melalui-konservasi-mata-air-berbasis-masyarakat/
Instagram Jaga Semesta. (2025). @jagasemesta – Gerakan masyarakat untuk menjaga mata air di Pulau Jawa. https://www.instagram.com/jagasemesta/





