Kesalahan Mengajarkan Membaca Sebelum Belajar Mendengar

Pexels

Saya membaca di buku Metodologi Pendidikan Islam yang Diterapkan Barat dalam Pendidikan Dasar yang disusun oleh Nia Nuraeni, Lc.,MA., ada sebuah pertanyaan menggelitik. Mengapa ada orang suka ke majlis ta’lim tapi masih suka menghina? Mengapa ada yang berpakaian syar’i tapi tidak membayar hutang? Mengapa suka berpuasa dan tahajjud tapi kelakuannya kurang terpuji? Kadang kala ada kalanya pertanyaan tersebut terlintas dibenak kita.

Manusia Terdiri dari Hardware (Badan) dan Software (Jiwa dan Otak)

Rukun islam yang kita ketahui ada 5: syahadat, sholat, zakat, puasa, haji yang semuanya berhubungan dengan hardware (badan) karena bisa dilihat dengan mata dan didengar telinga. Nah masalahnya sistem pendidikan di Indonesia biasanya lebih fokus pada pembinaan hardware, rukun islam, sebagai ciri keislaman.

Sering ngga kita lihat anak umur 3-4 tahun membaca iqra’ tiap sore mengaji di TPQ. Padahal, rukun islam seharusnya diperintahkan dan diajarkan dari umur 7 tahun. Banyak yang melupakan pembinaan software jiwa dan otak, yaitu ihsan.

Ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau. Maka ihsan adalah ajaran tentang penghayatan akan hadirnya Tuhan dalam hidup, melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap dan berada di depan hadirat-Nya ketika beribadah.

Baca Juga : Mempersiapkan Anak Mandiri dan Cerdas Finansial

Software otak yaitu iman (rukun iman: iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qada dan Qadar). Pembinaan ihsan dan iman sebagai pilar agama adalah sangat penting, karena akhlak, adab islami, cara berpikir islami akan nampak apabila hardware dan software telah diinstal dalam jiwa anak.

Puasa, Mengaji, Sholat hanya sebagai rutinitas. Mengapa?

Banyak yang puasa, baca Qur’an dan sholat hanya sebagai rutinitas yang dilakukan oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Rutinitas ini dilakukan tanpa menghadirkan rasa nikmat dan syukur kepada Rabbnya. Mengapa?

Karena dari kecil tidak menanamkan kecintaan dulu kepada Allah. Dari kecil tidak diajarkan merasakan kehadiran Allah melalui ciptaan-ciptaaNya. Maka sebelum mengenalkan rukun islam, kenalkan dulu rukun iman. Kenalkan kekuasaan Allah dengan mengenalkan ciptaan Allah seperti bumi, manusia, langit dll. Jadikan ihsan sebagai bagian jiwa. Setelah terbina akal dan jiwa dengan iman dan ihsan maka akan mudah melaksanakan rukun islam dengan kesadarannya sendiri.

Kesalahan Mengajarkan Membaca Sebelum Belajar Mendengar

Pexels

Menurut Nia Nuraeni, Lc.,MA., dalam penelitiannya menyebutkan TK dan SD Australia menggunakan metode Jolly Phonics untuk mengajarkan anak membaca dan manulis dengan menggunakan pendekatan bottom up process dan top down secara seimbang. Hal ini dengan mulai mengajarkan unit terkecil bunyi untuk persiapan membaca kelak dan memberikan konteks cerita dalam pengajaran huruf.

Anak di bawah 7 tahun fokus pada pengajaran: suara huruf dan mengenal suara melalui kata (vocabularies). Mengapa demikian?

Fungsi Mendengar untuk Anak

Pexels

Mendengar bisa untuk stimulasi otak anak agar bekerja dan bisa membedakan setiap bunyi yang didengar. Anak juga belajar konsentrasi karena terbiasa mendengar. Selain itu juga mengajarkan memahami respon suara dan perintah. Jadi, tidak diajarkan mengeja tapi diajarkan mendengar. Tidak diajarkan menulis, hanya diajarkan mengenali suara-suara tersebut diberbagai kosa kata yang didengar. Merujuk kepada surat Al Insan, Allah menciptakan telinga (pendengaran) terlebih dahulu daripada penglihatan.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Al Insan: 2

Baca Juga : Emang beda ya, Home Education sama Home Schooling?

Proses Mendengarkan

Mendengarkan sulit untuk dipahami karena mendengar terjadi dari dalam dan dengan sendirinya. Lundsteen (1979) menggambarkan bahwa mendengar sebagai proses berbahasa yang paling misterius.

Mendengarkan merupakan model berbahasa yang pertama dipelajari anak, dan model (seni) dasar bagi seni berbahasa lainnya (Lundsteen, 1979). Bayi-bayi menggunakan mendengarkan untuk mulai proses belajar, memahami dan untuk mengahsilkan bahasa. Pada awal kehidupannya, anak-anak mendengarkan suara di lingkungan sekitarnya, mulai dari menirukan suara, dan membangun pengetahuannya dengan bahasa lisan. Mendengarkan penting dalam belajar membaca. Anak-anak dikenalkan menuliskan bahasa dengan cara mendengarkan serita yang dibacakan orang tuannya.

Tiga langkah-langkah dalam proses mendengarkan yaitu meliputi menerima, memperhatikan, dan memaknai (Wolvin & Coakley, 1985). Langkah pertama, pendengar menerima rangsangan secara lisan atau menggabungkan  lisan dan visual yang diberikan oleh pembicara. Kedua, pendengar fokus masuk pada stimuli yang terpilih sementara yang lain diabaikan. Mereka harus bisa menangkap pesan pembicara, fokus pada informasi yang paling penting dalam pesan tersebut. Langkah yang ketiga, pendengar memaknai atau memahami pesan dari pembicara.

Pengaruh Mendengar dalam Membaca dan Menulis

Mendengarkan juga mempengaruhi dalam menulis, sebagaimana penjelasan Hansen (1987) bahwa program menulis dan membaca dimulai dari mendengarkan, dan mendengarkan berperan dalam keseluruhan proses. Mendengarkan adalah hal yang paling  digunakan dan mungkin hal yang paling penting dari seni berbahasa.

Pexels

Para peneliti menemukan bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan anak-anak dan dewasa dalam mendengarkan daripada dalam keseluruhan waktu yang dihabiskan untuk membaca, menulis, dan berbicara (Rankin, 1926; Wilt, 1950; Werner, 1975). Anak-anak dan dewasa menghabiskan kira-kira 50% dari waktu berkomunikasi mereka dengan mendengarkan.

Baca Juga : Orang Tua Seperti Anak Kecil, Bagaimana Menghadapinya?

Karena itu apabila anak disuruh membaca iqra terlalu awal sebelum umur 6 atau 7 tahun maka:

  • Otak anak tidak terstimulasi
  • Otak anak dipaksa sebelum matang
  • Otak anak dipaksa sebelum siap
  • Anak akan membeci membaca

Maka dengan mengajarkan mendengar dalam menghapal Al-Qur’an:

  • Memberi stimulasi otak anak
  • Mengajarkan konsentrasi
  • Mengajarkan bicara
  • Menanamkan keimanan

Semoga kita bisa membersamai anak-anak dalam proses belajarnya. Aamiin.

Malang, 5 Jabuari 2020

lintanggg

Lintang Gumilang adalah seorang ibu pembelajar yang jatuh cinta pada literasi dan gila membaca. Penulis kelahiran asli kota Malang ini memang hobi menulis lewat diary, sampai akhirnya punya platform blog sendiri yang berisi uneg-uneg recehnya selama hampir 10 tahun. Saat ini sangat bersyukur bisa menulis dan menerbitkan 14 antologi dengan harapan agar tulisannya bisa bermanfaat bagi semua pembacanya.

34 opinions on “Kesalahan Mengajarkan Membaca Sebelum Belajar Mendengar”

  1. Bagian awal jleb bgt buat aku yg dlu waktu skula dpet ilmu agama hanya sbatas pelajaran seminggu sekali alhamdulillah mau ngrubah itu ke anak, mulai dari memperdengarkan murotal terus

  2. MasyaAllah mbak lintang tulisannya sungguh menampar kembali saya selaku orang tua dari ketiga anak-anak. Mohon ijin untuk share tulisan ini disertai sumbernya. Terima kasih mbak lintang, ditunggu tulisan-tulisan indah lainnya

  3. Aku Masih dalam tahap belajar juga kak jadi ibu, jadi tulisan ini menjadi masukan yang berarti banget buat aku. Ihsan, Iman dan islam sebagai Pengingat hari ini, bukan cuma buat anak-anak tapi buat aku juga. Tulisan yang bagus

  4. aku manggut-manggut pas baca judulnya mbak, hihi..
    karena memang awali dengan mendengar dulu ya sebelum membaca. dan selama ini aku salah juga penerapannya, enak aja baca tanpa mikir anak sudah bisa mendengar dengan baik apa belum, huhu..

  5. Keren L.

    Jadi pahan kalau yang pertama adalah membiarkan anak mendengar dulu, menanamkan cinta pada Allah SWT, baru dia akan belajar menulis dan makin baik akhlaknya ya. Well noted banget, jadi dapet pelajaran aku. Seperti biasa, tulisanmu soal parenting selalu bagus, update dan tepat sasaran.

    Salam buat Ghazi, Ghazan, Ghaitsa!

  6. Jujur saya tidak pernah memperhatikan kesalahan ini. Apakah itu salah satu penyebab anak saya setahun belajar baru bisa baca? Mungkin saja. Trims tulisannya yang bagus ini kakak.

  7. Wah tulisannya membka wawasan saya mbak. Biasanya orangtua akan bangga ketika anaknya sudah pandai membaca di usia balita ya. Padahal lebih baik distimulasai dulu dengan banyak mendengar. Thanks, mbak tulisannya mencerahkan kali.

  8. apa yang kak lintang paparkan benar sekali. dengan mendengar informasi akan masuk langsung ke memori anak apalagi jika di dengar berulang. seperti mendengar doa-doa dan surat-surat pendek. bagi saya ini sama halnya dengan menggambar dulu baru mewarnai. walau di TK lebih banyak diajarkan sebaliknya

  9. Jadi bahan renungan buat aq yang sedang mendidik sang buah hati. Selama in saya beranggapan kelak ketika sudah tiba waktunya, lbh baik mengajarkan ia langsung baca dan menulis ternyata keliru. Trima ksh sharing nya kak

  10. wah baru tahu aku, iya juga sih ya,,motorik duluan

    jadi menstimulasi pendengaran si kecil dulu ya kak, biasanya aku liat byk org tua muda (eh gimana) yang lbh horee horee klo anaknya bisa bicara duluan

  11. Tadinya aku agak rancu apakah yang dibahas ini mendengar (hear) atau mendengarkan (listen), tapi memang ilmu mendengarkan pun diawali dengan mendengar, ya.

  12. Masya Allah banyak wawasan baru dari tulisan ini. Penting ya untuk mengutamakan belajar mendengar daripada membaca. Selama ini sering sekali anak-anak menjadi korban ketidak sabaran orang tua dalam kemampuan membaca. Aku jadi makin mantap nih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *