Mempersiapkan Anak Mandiri dan Cerdas Finansial

Dalam hal finansial, tugas orang tua adalah menyiapkan anak untuk bisa mandiri saat mencapai usia baligh. Sudah menjadi kewajiban orang tua menafkahi anak laki-lakinya sampai dia berusia dewasa (baligh) dan anak perempuannya sampai dia bersuami. Jika orang tua tidak berhasil menjadikan anak mandiri secara finasial sampai usia baligh, bisa jadi malah membebani orang tua sendiri nantinya. Maka orang tua perlu mempersiapkan anak mandiri dan cerdas finansial.

Baca Juga : Belajar Pendidikan Karakter dari Maruko-chan

Dalam buku Keluarga Muslim Cerdas Finansial disebutkan bahwa sebagian ulama mewajibkan ayah untuk menafkahi anaknya yang miskin sebagai dampak dari kegagalan pendidikan. Sebagian lain menyatakan tidak wajib jika si anak secara fisik sehat dan mampu bekerja. Jika orang tua masih menafkahi maka itu adalah sedekah. Mengajarkan anak mandiri secara finansial bukan berarti hanya mengajarkan bertransaksi atau muamalah ekonomi. Akan tetapi lebih kepada mengajarkan mental yang menunjang kemandirian anak tersebut. Sehingga saat tiba waktunya, mereka telah memiliki kesiapan.

Menurut Greg Murset, pendiri dan CEO aplikasi Busykid, pendidikan keuangan untuk anak bisa dimulai dan dilakukan dari rumah. Misalnya bisa mengenalkan dengan membahas pengeluaran sehari-hari di rumah. Nah, sebaiknya orang tua juga transparan mengenai pengeluaran rutin bulanan. Jadi bisa membantu anak-anak untuk memahami mengatur keuangan dengan baik. Laporan dari University of Cambridge menemukan bahwa kebiasaan anak memperlakukan uang terbentuk sejak usia 7 tahun.

Konsep Berusaha

Freepik

Anak perlu memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan. Semua kebutuhan anak menjadi kewajiban orang tua sebagai penanggungnya. Sedangkan keinginan anak bukan kewajiban orang tua. Suatu kali mungkin mungkin anak menginginkan sesuatu di luar kebutuhannya, misalnya membeli mainan tertentu. Orang tua bisa memberi reward atau upah untuk pekerjaan di luar tanggung jawab anak, misalnya membantu berkebun, mencuci mobil dan sebagainya. Baru nanti anak bisa mendapatkan mainan yang diinginkan.

Sedangkan untuk pekerjaan rutinitas yang memang menjadi tugas anak, seperti belajar, mandi, membereskan mainan, dll, sebaiknya orang tua tidak memberi reward. Orang tua juga bisa memberi contoh dalam membedakan kebutuhan dan keinginan. Misalnya membatasi belanja saat jalan-jalan ke luar kota, membeli sesuatu yang memang sangat diperlukan, bukan membeli sesuatu karena lucu. Hehe.

Memperkenalkan Konsep Uang

Freepik

Pahamkan bahwa uang sebagai alat tukar/alat pembayaran. Dalam islam, uang adalah alat pembayaran. Maka sebagai orang tua kita harus mengajari anak mengenai nilai uang, barang apa saja yang senilai uang tersebut. Anak juga harus paham bahwa uang harus diperoleh dengan cara yang halal. Tidak mengganggu milik orang lain, termasuk milik orang tua. Uang juga bukan komoditas, sehingga dilarang diperjual belikan. Anak pun bisa mulai berlatih mengelola uang sakunya sendiri dengan dipantau orang tua.

Pernah suatu ketika anak saya dengan seenaknya sendiri menginginkan suatu barang (mainan), dan harus beli saat itu juga. Saat itu saya bilang, “tunggu ya, ibu belum ada lebihan uang untuk beli mainannya mas. Uang ibu sudah ada porsinya untuk memberi kebutuhan lain yang lebih perlu daripada mainannya mas.. Sabar ya, doakan ibu ada rezeki”. Atau mungkin bisa ditawarkan alternatif anak harus ‘bekerja’ dulu untuk memperoleh sesuatu. Seperti yang telah disebutkan tadi. Yah, biar tahu juga, kalau uang itu tidak serta merta datang dari langit.

Kata anak saya,”yahh bu..kan tinggal ambil di ATM”. Hahaha ada-ada aja, dikata ATM kaga bisa kosong kali ya. Uang bisa ada mulu tinggal tarik, wkwkwk. Ya saya bilang, ATM ada isinya kalau udah gajian. Kita gajian kalau sudah menyelesaikan pekerjaan atau tanggung jawab kita. Akhirnya kalau mau minta apa-apa mereka bilangnya, “Ibu udah gajian belum?” hiyaaaa. Oh ya, jangan terlalu sering mengeluarkan kalimat, “ibu nggak punya uang”. Nanti mindset mereka akan selalu ingat, ohhh ibuku kan nggak pernah punya uang. Nah lhoo. Ceritakan saja secara transparana bagaimana kondisi keuangan kita.

Menabung dan Menyumbang

Freepik

Beri anak pemahaman juga kalau tidak semua uangnya harus habis untuk dibelanjakan. Orang tua juga harus mengajarkan menyisihkan ebagian uang untuk menabung dan menyumbang atau sedekah. Ajarkan tiga pos sederhana: ditabung, disumbangkan dan dibelanjakan. Saya juga sebisa mungkin memberi contoh bagaimana berbagi dengan orang lain.

Seperti saat ada nenek-nenek yang meminta di lampu merah, saya ceritakan bahwa kasihan nenek tersebut. Pasti nenek tersebut kebutuhannya belum tercukupi, sampai harus meminta kepada kita di usianya yang senja. Semua harta yang kita punya sebagian ada harta orang lain, serahkan hak milik orang lain dengan menyedahkan harta kita. Dan anak-anak pun paham. Sampai pernah suatu ketika temannya (tetangga-tetangga sekitar rumah) diajak semua ke rumah dan dijajanin es krim pakai duit hari raya. Katanya, kan kita harus berbagi sama teman juga, buuuu. Hahaha.

Konsep Keuangan Bisnis Sederhana

Bagi anak yang lebih besar, bisa juga memberi tahu tentang modal, biaya produksi dan keuntungan. Dengan demikian anak tidak akan menjual barang dengan harga murah asal cepat laku. Jika anak mulai memiliki usaha, ajari juga kalau usaha itu harus berkembang. Motivasi mereka untuk lebih baik dari hari ini, dan milikilah usaha yang bermanfaat untuk orang lain.

Pexels

Pernah juga ada simulasi di sekolah tentang market day seperti bazaar. Anak-anak diberi uang mainan kertas di pintu masuk dan harus belanja sesuai keperluan yang tertulis di kertas yang dibagikan. Pernah juga kegiatan berjualan hasil produksinya sendiri, seperti bikin donat, puding, susu, dsb. Dengan ketentuan modal tertentu dan ditentukan harga jualnya tidak boleh lebih dari Rp 5.000. Seru juga, yang pening emaknya wkwkwk.

Baca Juga : Emang beda ya, Home Education sama Home Schooling?

Nah bagaimana dengan teman-teman? Apakah sudah pernah mengajarkan anak mengelola keuangan sejak dini? Ajari mereka mulai dari mengelola uang jajan. Semakin besar usia anak, sudah mulai bisa diajarkan menyisihkan uang jajan misalnya untuk dana darurat. Membeli keperluan yang dibutukan mendadak dan untuk bersedekah. Bisa juga mulai membuka rekening bank atas nama anak.

Boleh dong cerita pengalaman teman-teman seputar mengelola keuangan anak agar cerdas finansial. Ternyata penting banget kan mempersiapkan anak mandiri dan cerdas finansial. Yuk mulai dari sekarang!

Malang, 2 Januari 2020

lintanggg

Lintang Gumilang adalah seorang ibu pembelajar yang jatuh cinta pada literasi dan gila membaca. Penulis kelahiran asli kota Malang ini memang hobi menulis lewat diary, sampai akhirnya punya platform blog sendiri yang berisi uneg-uneg recehnya selama hampir 10 tahun. Saat ini sangat bersyukur bisa menulis dan menerbitkan 14 antologi dengan harapan agar tulisannya bisa bermanfaat bagi semua pembacanya.

26 opinions on “Mempersiapkan Anak Mandiri dan Cerdas Finansial”

  1. hahaha sama mbak, pas anak-anak masih balita, kalau dibilang “mama lagi nggak punya uang, nih dompet mama kosong”, terus malah di jawab “kan bisa pakai kartu” . Gara-gara keseringan lihat mamanya belanja dan bayar pakai kartu debit. Jadi panjang lebar deh jelasin kalau di kartu juga nggak ada uangnya

  2. Mengajarkan anak tentang kecerdasan finansial emang penting banget ya. Biar anak tahu kebutuhan-kebutuhan dan skala prioritas yang perlu dilakukan terkait kebutuhan finansial mereka. Jangan tahunya ada aja hehe

  3. Sepakat kak, anak-anak sejak dini memang perlu dididik agar melek literasi keuangan, agar saat dewasa bisa bijak dalam mengatur keuangan, baik untuk dirinya maupun saat sudah berkeluarga. Misalnya anak bisa dikenalkan dengan apa itu investasi dan beserta keuntungannya untuk masa depan. Nice artikel ya kak :)makasih

  4. Isya belum tahu sih konsep uang wkkw jadi gampang masihan kalo diarahkan. Tapi konsep nabung udah mulai kenal, jadi dia suka banget kumpulin uang receh.
    Wellnoted untuk saran2nya. Tencuuu bunnnn

  5. Anakku umur 22 bulan klo dikasih uang kertas dan uang receh yang receh masukin celengan. Yang kertas buat beli jajan ke warung tetangga.
    Heran belum genap 2 tahun dah pinter uang buat apa.

  6. Saya setuju banget tuh, orang tua baiknya jangan keseringan bilang tidak punya uang, dan kalau bisa dijelaskan dengan sederhana tentang kondisi keuangan keluarga pada anak agar literasi finansialnya juga berkembang. Tentu harus dijelaskan dengan bijak

  7. Aku baru ngajarin dikit2 mba…
    cm yang dia baru paham sekarang uang celengan aka uang logam, kalo oang kertas dia nolak krn susah masukkan ke celengan wkwkwk

  8. Untuk mengajari anak “earning money” ini sudah sih. Bahwa tidak ada barang gratis, semuanya harus didapat dengan kerja, hehe.
    Yang belum adalah mengelola pengeluaran. Karena belakangan aku amati dia suka habiskan uang simpanannya untuk jajan.
    Terimakasih tipsnya, Mah.

  9. Iya betul. Anak kalau tidak diajarkan bagaimana mengelola keuangan, maka ia akan menjadi pribadi yang boros. Seringkali menjumpai karakter tersebut dan sangat merepotkan dan merugikan orang tua mereka. Mereka seolah-olah bertindak seperti orang berada, tapi sebenarnya tidak demikian.

  10. bagus banget ini sejak dini mengajari anak untuk cerdas finasial agar tidak boros, dan jika ingin membeli sesuatu harus memikirkan dampaknya pasti akan berkurang. Menabung dan bersedekah pasti bagus manfaatnya

  11. anak saya sudah mulai suka nabung skrg mbak. gara garanya saya belikan celekan yang bentuknya lucu. alhamdulillah si adik suka nabung juga. semoga bisa terbiasakan sampai dewasa ya. Aaamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *