
Pernah ngga kamu membayangkan bahwa apa yang sedang terjadi di hutan bisa memiliki hubungan dengan makanan yang tersaji di meja makan?
Emang sih ya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) rasanya seperti persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Apalagi kalau kamu tinggal di perkotaan. Kayanya ini ngga akan berpengaruh sama kehidupan kita deh.
Saat ini setiap hari kita melihat berita tentang kebakaran, asap yang masih menyelimuti wilayah Kalimantan, bahkan lahan yang berubah menjadi hikam pekat setelah terbakar.
Temen-temen pleaseee jangan berhenti berisik di media sosial. Biar suara kamu makin didengar dan warganet tidak akan lupa kalau maih banyak saudara-saudara kita yang sesak napas karena dampak karhutla.
Ternyata, di balik semua peristiwa tersebut, ada cerita yang jauh lebih panjang tentang ekosistem, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan sumber pangan.
Kembali lagi aku bareng teman-teman Eco Blogger Squad mendapat pencerahan setelah mengikuti sesi ngobrol bareng bertajuk “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.”
Dua narasumbernya yaitu Yoga Aprilliano (Communication Lead Pantau Gambut) dan Ahmad Arif (jurnalis senior Kompas) yang akrab dipanggil Mas Aik.
Dari pembahasan mas Yoga dan mas Aik, aku semakin memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar melindungi pepohon dan satwa liar. Ada hubungan yang tidak boleh kita abaikan juga antara Kesehatan ekosistem dan kemampuan masyarakat mempertahankan sumber pangan yang beragam. Terutama ketika perubahan iklim menjadi sebuah tantangan seperti sekarang.
Saat mas Aik menjelaskan tentang sistem pangan berbasis budaya pangan lokal, aku menjadi makin penasaran dengan keberadaan pangan lokal di daerahku.
Di Malang, aku mengenal mbothe, yaitu sejenis umbi talas yang bisa menjadi pilhan sumber karbohidrat selain beras. Dari sini, aku mulai melihat bahwa Upaya menjaga lingkungan dan mengenal kembali pangan lokal sebenarnya bisa menjadi solusi untuk diversifikasi pangan.
Gambut Bukan Lahan Kosong yang Bisa Kita Abaikan

Sebelum membicarakan meja makan, kita perlu memahami dulu kenapa lahan gambut begitu penting. Oke aku jelasin dulu sederhananya yah..
Gambut sendiri merupakan sebuah ekosistem lahan basah yang terbentuk melalui akumulasi bahan organik selama waktu yang panjang.

Indonesia memiliki sekitar 24,2 juta hektare ekosistem gambut tropis yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim.
Masalahnya, gambut punya karakteristik yang membuatnya rentan ketika kondisi alaminya terganggu. Gambut yang mengering jadi lebih mudah terbakar, terutama saat periode kering berkepanjangan. Fenomena iklim seperti El Nino bisa memperburuk kondisi tersebut. Oh ya, El Nino hanya salah satu faktor pendukung aja, bukan penyebab utama karhutla!
Tahu ngga kenapa asap ngga hilang-hilang saat lahan gambut terbakar?
Faktanya, kebakaran di lahan gambut bukan cuma api yang melahap pepohonan. Api dapat membara jauh di bawah permukaan tanah, lho! Api bahkan bisa bertahan dalam waktu yang lama sehingga sulit banget dipadamkan.
Ketika api di permukaan sudah tidak terlihat, bara di lapisan gambut masih bisa bertahan!
Kerusakan gambut juga ngga gampang dipulihkan. Saat kondisi hidrologi dan struktur tanah berubah, sementara sebagian cadangan karbon terlepas ke atmosfer, ekosistem tersebut tidak serta-merta bisa balik seperti semula.
Karena itu, gambut ngga seharusnya dipandang sebagai lahan kosong yang bebas dialihfungsikan. Justru, gambut merupakan bagian penting dari system alam yang perlu dijaga. Ketika kita berhasil melindungi gambut, maka kita turut serta berperan menjaga ekologisnya. Termasuk perannya dalam meyimpan karbbon dan mempertahankan kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan.
Ketika Karhutla Mengancam Biodiversitas

Lalu, apa sebenarnya yang hilang ketika sebuah kawasan terbakar?
Jawabannya bukan cuma sekadar pepohonan. Dalam sebuah ekosistem, berbagai makhluk hidup saling bergantung. Tumbuhan menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi satwa. Organisme lain membantu proses penguraian bahan organik dan mendukung siklus unsur hara. Kalau habitat ini rusak, hubungan yang selama ini menopang kehidupan juga pasti terganggu.
Inilah alasan biodiversitas atau keanekaragaman hayati begitu penting. Biodiversitas mencakup keragaman makhluk hidup, variasi genetik, serta ekosistem tempat mereka hidup. Keragaman ini bukan sekadar daftar spesies yang bisa kita catat saja, melainkan bagian dari keseimbangan alam.
Karhutla dapat merusak habitat, mengancam populasi satwa, dan mengganggu keberlangsungan berbagai jenis tumbuhan. Ketika kebakaran terjadi berulang kali, kemampuan suatu ekosistem untuk pulih juga dapat menurun.

Dampaknya pun bisa meluas hingga kehidupan masyarakat. Di sejumlah wilayah, hutan dan bentang alam di sekitarnya bukan hanya tempat hidup berbagai spesies, tetapi juga menyediakan sumber pangan, bahan kebutuhan sehari-hari, serta ruang bagi praktik budaya masyarakat lokal.
Ketika masyarakat kehilangan akses terhadap hutan dan lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan, dampaknya bukan hanya soal ekonomi. Pengetahuan mengenai tumbuhan pangan, cara mengolah hasil alam, praktik pertanian, dan tradisi yang diwariskan antargenerasi juga bisa ikut terancam.
Dari sini, aku mulai memahami bahwa menjaga biodiversitas bukan semata-mata tentang menyelamatkan spesies yang terancam punah. Kita juga perlu memperhatikan hubungan antara alam dan masyarakat yang hidup bersamanya.
Gastrokolonialisme: Ketika Pangan Lokal Tersisih

Jujur ada satu istilah dalam materi webinar yang membuatku berpikir lebih jauh tentang hubungan antara pangan dan kekuasaan, yaitu gastrokolonialisme.
Bahasa sederhananya, gastrokolonialisme bisa dipahami sebagai proses ketika sistem pangan dan budaya makan suatu masyarakat menjadi tersisih atau didominasi oleh sistem pangan dari luar.
Hal ini bukan hanya tentang makanan apa yang tersedia, melainkan juga tentang siapa yang menentukan apa yang dianggap sebagai makanan utama, bagaimana pangan diproduksi, dan seberapa besar masyarakat masih memiliki kendali atas sumber pangannya.
Siapa yang ngerasa, belum makan kalau belum ada menu nasi??
Akuuu!!!!
Coba perhatikan kebiasaan makan kita sehari-hari. Di banyak keluarga Indonesia, nasi menjadi tolok ukur utama untuk merasa sudah makan. Ketika seseorang menyantap singkong, jagung, atau umbi-umbian, makanan tersebut terkadang dianggap sekadar camilan atau pengganti sementara ketika beras tidak tersedia.
Padahal, berbagai masyarakat di Nusantara memiliki sejarah pangan yang jauh lebih beragam. Sagu, umbi-umbian, jagung, dan beragam tanaman lokal telah menjadi bagian dari sistem pangan masyarakat di wilayah yang berbeda-beda.
Seperti saudara-saudara kita di Papua yang rela menukar lauk dengan mie instan. Ini yang disebut fenomena nasi kosong. Mereka sebenarnya punya pangan lokal yang sudah disesuaikan dengan tempat mereka tinggal. Tapi malah dipaksa makan dengan makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Lantas, mengapa sebagian pilihan pangan tersebut semakin jarang hadir di meja makan kita?
Jawabannya tentu tidak sesederhana perubahan selera. Kebiasaan makan dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari ketersediaan bahan pangan, harga, kebijakan, distribusi, perubahan mata pencaharian, hingga anggapan sosial tentang makanan yang dianggap ideal.
Mas Aik membahas contoh masyarakat Marind-Anim di Papua yang mengalami kehilangan akses terhadap hutan sebagai sumber pangan dan bagian penting dari budaya mereka. Dalam kasus yang dibahas, perubahan penggunaan lahan dan masuknya pangan dari luar berkaitan dengan semakin terpinggirkannya pangan lokal serta meningkatnya ketergantungan pada beras, mi instan, dan bahan pangan industri.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak bisa dilepaskan dari persoalan akses terhadap tanah, hutan, dan sumber daya alam. Ketika masyarakat kehilangan ruang untuk memperoleh atau memproduksi pangan yang biasa mereka konsumsi, pilihan mereka ikut berubah.
Gastrokolonialisme juga mengajak kita mempertanyakan anggapan bahwa satu pola makan harus berlaku untuk semua wilayah. Indonesia memiliki kondisi geografis, ekosistem, dan budaya yang beragam. Tidak masuk akal jika seluruh kekayaan tersebut hanya dilihat melalui satu jenis bahan pangan.
Menurutku, bagian paling penting dari pembahasan ini adalah kesadaran bahwa menghargai pangan lokal berarti juga menghargai pengetahuan, identitas, dan hak masyarakat untuk mempertahankan sistem pangannya.
Diversifikasi Pangan: Mengembalikan Pilihan ke Meja Makan

Setelah memahami bagaimana pangan lokal dapat tersisih, aku merasa kita perlu membicarakan apa yang bisa dilakukan untuk memperluas kembali pilihan pangan.
Salah satu langkahnya adalah diversifikasi pangan, yaitu upaya menganekaragamkan sumber pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Ada singkong, jagung, ubi jalar, talas, uwi, gembili, sagu, dan berbagai bahan pangan lainnya. Sebagian tumbuh atau dibudidayakan sesuai kondisi lingkungan dan pengetahuan masyarakat di wilayah masing-masing.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa sumber pangan tidak harus seragam di seluruh Indonesia. Lingkungan yang berbeda melahirkan pilihan bahan pangan dan tradisi kuliner yang berbeda pula.
Di sejumlah wilayah Indonesia Timur, misalnya, sagu dan umbi-umbian memiliki peran penting dalam pola pangan masyarakat. Sementara itu, berbagai jenis umbi juga dikenal dan dimanfaatkan di wilayah lain, termasuk Jawa.
Diversifikasi bukan berarti kita harus berhenti makan nasi. Intinya adalah memberi ruang bagi bahan pangan lain agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada satu sumber karbohidrat.

Namun, diversifikasi pangan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat mengganti nasi dengan umbi-umbian. Kita juga perlu memastikan bahan pangan tersebut tersedia, mudah diakses, terjangkau, dan dapat diolah sesuai kebutuhan keluarga.
Mengenal Mbothe, Pangan Lokal dari Malang

Dari berbagai pilihan umbi yang bisa kita kenali, aku tertarik mengangkat mbothe yang dikenal di wilayah Malang.
Mbothe merupakan sebutan lokal untuk umbi talas, bahasa bekennya adalah kimpul. Bahan pangan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan diolah menjadi berbagai hidangan.
Mengenalnya kembali juga menjadi kesempatan untuk melihat kekayaan bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi mungkin belum selalu menjadi pilihan utama dalam menu sehari-hari.
Saat mendengar kata diversifikasi pangan, kita mungkin membayangkan kebijakan besar, program pertanian, atau perubahan sistem distribusi. Padahal, mengenal bahan pangan lokal juga dapat dimulai dari langkah sederhana: mencari tahu apa yang tersedia di sekitar kita, mengenali cara pengolahannya, dan mencoba memasukkannya ke dalam menu keluarga.
Untuk mengenal mbothe lebih jauh, kita bisa mulai dengan mencarinya di pasar tradisional atau bertanya kepada penjual umbi-umbian di sekitar tempat tinggal. Kita dapat mempelajari nama lokalnya, cara memilih umbi yang baik, serta bagaimana masyarakat setempat biasa mengolahnya.
Proses sederhana tersebut bisa menjadi cara untuk mendokumentasikan pengetahuan pangan lokal. Kita tidak hanya mengenal bahan mentahnya, tetapi juga belajar dari orang-orang yang telah lama mengetahui cara memanfaatkan bahan pangan tersebut.
Dari Umbi Menjadi Hidangan Keluarga

Salah satu cara paling sederhana untuk mencoba mbothe adalah dengan mengukus atau merebusnya hingga matang.
Mbothe yang sudah matang dapat disajikan sebagai sumber karbohidrat bersama lauk dan sayuran. Ternyata mbothe juga bisa jadi pelengkap sayur asem lho!
Untuk menu rumahan, aku membayangkan sepiring mbothe kukus hangat yang disandingkan dengan tempe goreng, telur dadar, dan tumis kangkung. Sambal bisa ditambahkan bagi yang menyukainya.
Kombinasi tersebut sederhana, tetapi tetap memberikan variasi dalam menu sehari-hari. Mbothe menjadi sumber karbohidrat, sedangkan tempe dan telur melengkapi hidangan dengan protein. Sayuran menambah variasi zat gizi dan warna di meja makan.
Selain dikukus atau direbus, mbothe juga dapat dikreasikan menjadi keripik, gethuk, atau olahan lain sesuai kebiasaan dan kreativitas keluarga. Dengan begitu, pangan lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk hidangan tradisional yang sama. Ia juga bisa diperkenalkan melalui kreasi baru tanpa kehilangan identitas bahan dasarnya.
Bagi keluarga yang terbiasa makan nasi setiap hari, mencoba mbothe sesekali dapat menjadi awal untuk mengenal sumber pangan lain. Tidak perlu langsung mengganti seluruh menu. Kita bisa memulainya dengan satu hidangan, lalu mengeksplorasi bahan pangan lokal lain yang tersedia di lingkungan sekitar.
Keragaman Pangan sebagai Bagian dari Mitigasi dan Adaptasi Krisis Iklim

Dari gambut hingga meja makan, benang merah yang aku tangkap adalah pentingnya menjaga hubungan antara alam dan kehidupan manusia.
Mitigasi krisis iklim membutuhkan upaya untuk mengurangi sumber emisi gas rumah kaca atau meningkatkan penyerapannya. Melindungi gambut agar tidak terdegradasi dan terbakar merupakan bagian penting dari upaya tersebut karena gambut menyimpan cadangan karbon yang besar.
Mengikuti webinar ini membuatku menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak berhenti pada bentang alam yang jauh dari pandangan. Apa yang terjadi pada ekosistem dapat berkaitan dengan sumber penghidupan, budaya, dan pangan yang menopang kehidupan manusia.
Mengenal mbothe di Malang menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami pesan tersebut. Dari sebuah umbi lokal, kita bisa belajar tentang potensi bahan pangan di sekitar kita, mencoba variasi menu keluarga, dan menghargai pengetahuan masyarakat yang menjaga keberadaan pangan tersebut.
Jadi, bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu mengenal bahan pangan yang tumbuh di sekitar tempat tinggal sendiri?
Yuk, mulai mencari, mencoba, dan menceritakan kembali kekayaan pangan lokal di daerah kita. Jika di Malang ada mbothe yang menarik untuk dieksplorasi, mungkin di daerahmu ada singkong, uwi, gembili, sagu, atau bahan pangan lain yang menyimpan cerita tersendiri.
Kunjungi nusantarafoodviodiversity.org untuk mengajak masyarakat di sekitar kita agar kembali ke pangan lokal.
#ecobloggersquad #PeatlandIsNotWasteland @ecobloggersquad @pantaugambut





