
“Yuk, PLM bikin cernak antologi, gimana? Habis ini kan hari Ibu, kayanya temanya pas deh ngangkat kenangan bareng ibu gitu..”
Tiba-tiba banget kepikiran bikin cerita anak bareng temen-temen PLM. Oh ya, PLM itu Payung Literasi Malang yang kami bikin bareng-bareng. Harapannya buat meningkatkan kemampuan dan kemauan berliterasi warga Malang.
Wah, seru juga yah kalau kami mewadahi temen-temen buat meluncurkan sebuah buku antologi bersama. Jadi kami benar-benar ingin mewujudkannya. Ide ini kami godog matang-matang, gimana membungkus konsepnya agar banyak yang tertarik.
“Gimana kalau ngajak mba Dhona deh. Beliau kan sering banget nulis buku anak,” kata Jihan, ketua PLM.
Akhirnya kami membuat sebuah mini course dan mendapuk mba Dhona sebagai narasumber kelas menulis “Kenangan Bersama Ibu”. Beliau adalah penulis cernak, penulis terpilih Penulisan Bahan Bacaan Literasi Badan Bahasa Kemendikbudristek RI 2024.
Nah goals dari mini course ini adalah menerbitkan buku antologi yang berjudul “Jejak Rindu Mengenang Ibu”. Para peserta akan diberikan tugas menulis cerita anak, yang akan dibukukan menjadi sebuah antologi.
Ketika Sebuah Mimpi Ditulis Halaman demi Halaman

Ada perasaan yang selalu sulit dijelaskan setiap kali terlibat dalam proses pembuatan buku. Sejujurnya aku sudah menulis 24 antologi. Tapi nggak spesial seperti sekarang, karena aku terjun langsung menjadi bagian dari tim penulisan hingga penerbitan buku ini. Rasanya seperti sedang ikut menanam benih kecil yang suatu hari akan tumbuh dan bermakna bagi banyak orang.
Momen ini sudah lama kami nantikan. Setelah melalui berbagai diskusi dan perencanaan, akhirnya proses penulisan dan penyuntingan naskah benar-benar dimulai.
Bagian illustrasi, kami menyerahkan ke illustrator yang lebih ahli. Jadi aku lebih sibuk bikin naskahku sendiri. Aku bikin dua cerita anak lho hehehe. Selain naskahku sendiri, aku juga dapat job desc untuk menyunting sedikit-sedikit naskah yang sudah dikumpulkan.
Sebagai seseorang yang memang menyukai dunia menulis, aku merasa sangat antusias. Bagiku, proses ini sangat menyenangkan sekaligus menantang. Ada kebahagiaan tersendiri melihat sebuah tulisan menjadi lebih baik setelah melalui proses revisi.
Namun di balik semangat menggebu itu, aku tidak menyadari ada satu hal yang perlahan mulai mengganggu kenyamananku.
Berjam-jam di Depan Layar demi Menyempurnakan Naskah
Sebagian besar proses pengerjaan buku tentu saja dilakukan secara digital. Naskah teman-teman dikumpulkan melalui email untuk memudahkan pendataan. Setiap hari pasti aku buka laptop, dan membaca setiap naskah yang masuk.
Mulai dari memperbaiki ejaan, menyusun kalimat agar lebih mengalir, hingga memastikan isi cerita mudah dipahami oleh pembaca anak-anak. Ternyata lebih susah lho bikin cerita anak, karena kita harus menggunakan POV anak-anak. Iya kan?
Rutinitas ini membuatku menghabiskan waktu lebih lama di depan layar daripada biasanya. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan mendampingi anak-anak belajar, malam hari menjadi waktu me time bersama laptop. Ditemani secangkir kopi yang perlahan mendingin hingga tengah malam. Aku larut membaca dan menyunting hingga tak menyadari waktu semakin larut.
Tanpa terasa, durasi menatap layar juga semakin panjang dari hari ke hari.
Saat Mata Mulai Terasa SEpet, PErih, dan LElah
Aku mulai merasakan mataku sedikit berat, tapi mungkin hanya perasaanku. Aku cuma mengira karena kurang istirahat, atau terlalu fokus bekerja. Namun beberapa hari kemudian, rasa nggak nyaman itu kok semakin sering muncul.
Saat membaca naskah yang cukup panjang, mataku mulai terasa SEpet. Kelopak mata juga makin berat dan bikin aku jadi lebih sering berkedip. Ngga lama kemudian muncul sensasi PErih, terutama ketika harus berpindah-pindah membaca dokumen di laptop dan notifikasi di ponsel dalam waktu yang cukup lama.
Apalagi yang paling mengganggu adalah rasa LElah pada mata. Biasanya aku aman aja membaca puluhan halaman, tetapi saat itu konsentrasiku menurun jauh. Beberapa paragraf harus kubaca berulang kali karena fokusku mudah buyar. Bahkan aku makin sering mengedipkan mata beberapa detik sebelum melanjutkan penyuntingan.
Saat itulah aku mulai menyadari kalau aku mengalami gejala mata kering, dan yang kurasakan bukan sekadar capek biasa.
Ketika Gejala Mata Kering Mulai Memengaruhi Proses Berkarya
Sebagai penulis dan blogger, mata adalah “partner kerja” yang paling krusial buatku. Ketika mata terasa nggak nyaman, jelas produktivitas-ku ikut terpengaruh.
Proses penyuntingan yang biasanya kuselesaikan dengan cepat menjadi lebih lambat. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk memeriksa detail-detail kecil dalam naskah. Padahal masih ada beberapa naskah lagi yang harus kuselesaikan agar penyusunan buku tidak melebihi deadline.
Aku sempat khawatir, buku ini adalah proyek pertama kami yang sudah lama dinantikan. Aku ingin menikmati setiap prosesnya, bukan justru terganggu oleh kondisi maya yang terasa tidak nyaman.
Menemukan Insto Dry Eyes dengan Mudah

Gejala ini nggak boleh mengganggu berlarut-larut. Wah, sepertinya harus mencari solusi yang praktis untuk meredakan rasa nggak nyaman pada mata.
Aku teringat pada Insto Dry Eyes, dan untungnya aku nggak perlu mencarinya jauh-jauh. Saat berbelanja kebutuhan rumah tangga di Indomaret dekat rumah, aku menemukannya dengan mudah.
Sebagai ibu yang memiliki aktivitas cukup padat, kemudahan mendapatkan produk tentu menjadi sebuah nilai tambah tersendiri.
Setelah menggunakan #InstoDryEyes sesuai petunjuk penggunaan, mataku jauh terasa lebih nyaman. Sensasi kering dan perih yang sebelumnya cukup mengganggu menjadi lebih berkurang. Aku bisa membaca dan menyunting naskah dengan lebih fokus.
Caraku Mengatasi Mata Kering
Selain menggunakan Insto Dry Eyes, ada beberapa kebiasaan yang kini rutin kulakukan agar #BebasMataKEring saat bekerja lebih lama di depan laptop.
Menerapkan Aturan 20-20-20
Setiap kali menatap layar, aku mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak 20 kaki selama 20 detik. Ini works banget sih, biar mata kita ada jeda istirahatnya.
Memberikan Jeda untuk Mata
Aku berusaha tidak terus-menerus menatap layar tanpa istirahat. Biasanya aku juga menggunakan smart watch yang memunculkan notifikasi “get move” kalau aku terlalu lama duduk.
Jadi aku akan sesekali melakukan peregangan ringan biar nggak capek duduk.
Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi
Biasanya saking asyiknya kerja, aku sampai lupa minum air putih. Kini, memenuhi kebutuhan cairan menjadi salah satu kebiasaan yang lebih kuperhatikan.
Mengatur Kecerahan Layar
Pastinya aku menyesuaikan kecerahan layar laptop agar mata terasa lebih nyaman saat bekerja. Kalau terlalu terang, juga akan menyakiti mata.
Menyediakan Insto Dry Eyes

Insto Dry menjadi solusi praktis yang selalu kusediakan untuk membantu gejala mata kering saat dibutuhkan. Langsung aja aku tetesin Insto Dry Eyes, biar mata ngga sepet lagi.
Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein

Alhamdulillah buku antologi “Jejak Rindu Mengenang Ibu” bisa terbit tepat waktu. Rasanya lega banget, semua tulisan bisa tayang. Ilustrasinya sangat lucu menggemaskan. Banyak juga yang beli karena penasaran sama isinya. Bahkan buku ini bisa jalan-jalan sampai ke Singapura, dibawa oleh salah seorang teman. Keren bangettttt!!!
Pokoknya dari pengalaman ini aku belajar kalau momen berharga terasa paling berkesan justru dalam proses panjang mewujudkannya.
Karena itulah, aku ngga mau gejala mata SEpet, PErih, dan LElah mengurangi kenyamanan saat menjalani proses yang berarti bagiku. Kini aku lebih peka terhadap kesehatan mata, karena gejala #MataSePeLeJanganSepelein.
Sebab ketika mata kita sehat, bekerja akan terasa lebih nyaman. Aku pun bisa kembali fokus melakukan hal yang paling kusukai: menulis, membaca, dan menghadirkan lebih banyak buku cerita untuk anak-anak Indonesia.





