Ketika Mangrove dan Porang Bukan Sekadar Tanaman, Menanam Harapan bagi Pangan dan Lingkungan

Ketika Mangrove dan Porang Bukan Sekadar Tanaman

Pernah ngga kita berpikir, bahwa aksi menghadapi perubahan iklim bisa dimulai dari sesuatu yang tumbuh di sekitar kita?

Berbagai solusi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim akan dilakukan dalam gelaran akbar Bangkok Climate Action Week 2026, yang berlangsung pada 3–11 Oktober 2026.

Bangkok dipilih menjadi ruang bertemunya berbagai negara untuk membicarakan isu iklim, mulai dari alam, pangan, energi, ekonomi, hingga peran masyarakat dalam menciptakan perubahan.

Namun, semakin banyak mendengar tentang aksi iklim, aku justru semakin merasa bahwa solusi tidak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal.

Jadi aku bersama temen-temen EBS ngobrol bareng Bung Daniel Kbarek dan Bung Wawiyai Steve. Seru banget ngomongin Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat. Aku jadi tahu kalau..

Di sana, masyarakat Friwen menjaga mangrove, sebuah ekosistem pesisir yang bukan hanya penting bagi lingkungan, tapi juga bagi kehidupan masyarakat.

Mangrove Bukan Sekadar Pohon di Tepi Laut

Mangrove Bukan Sekadar Pohon di Tepi Laut

Ketika mendengar kata mangrove, yang terbayang mungkin adalah pepohonan yang tumbuh di antara daratan dan laut.

Padahal, ekosistem mangrove memiliki peran yang jauh lebih besar.

Hubungan mangrove dan stok ikan

Dalam materi yang dibawakan Bung DK, dijelaskan bahwa akar mangrove yang kompleks menyediakan tempat berlindung dan pemijahan bagi berbagai spesies laut unik.

Raja Ampat juga menyimpan varietas flora pesisir yang mendukung rantai makanan lokal secara berkelanjutan. Ekosistem ini menjadi rumah bagi biota endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Mangrove juga menjadi bagian penting dalam rantai makanan perairan pesisir karena guguran daunnya menghasilkan detritus yang menjadi sumber energi bagi biota laut.

Selain itu, ekosistem ini membantu menyaring sedimen dan polutan sehingga kualitas air tetap mendukung kehidupan di kawasan pesisir.

Jadi, ketika sebuah kawasan mangrove terjaga, yang sebenarnya kita jaga bukan hanya pohonnya.

Ada ikan yang berlindung di antara akarnya. Ada biota laut yang berkembang di sana. Ada rantai makanan yang terus berjalan. Dan pada akhirnya, ada sumber pangan masyarakat pesisir yang ikut bergantung pada kesehatan ekosistem tersebut.

Hal ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan perubahan iklim.

Kenaikan muka air laut dapat mengancam habitat pemijahan ikan dan krustasea yang menjadi sumber protein masyarakat pesisir. Perubahan cuaca ekstrem juga dapat memengaruhi siklus produksi pangan dan mata pencaharian, sementara intrusi air laut dapat mengurangi ketersediaan air tawar untuk kebutuhan domestik maupun pertanian.

Dengan kata lain, menjaga ekosistem pesisir juga merupakan bagian dari menjaga ketahanan pangan.

Ketika Mangrove Juga Menjadi Ketahanan Pangan

buah aibon

#Ecobloggersquad #theasiafoundation   #JagaMangroveJagaRajaAmpat  #merawatmimpi  #menumbuhkaninspirasi

Ada satu insight baru yang membuatku semakin tertarik: buah mangrove ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Ternyata pemanfaatan buah Bruguiera gymnorrhiza atau lebih dikenal dengan Aibon, bisa digunakan sebagai bahan baku tepung. Ini sangat bermanfaat sebagai salah satu substitusi karbohidrat lokal.

mangrove cookies

Sari buahnya juga dapat diolah menjadi sirup dan minuman, sementara buahnya bisa dikembangkan menjadi berbagai produk seperti kue dan keripik.

Anggota KUPS Sinya Lep mendapatkan pelatihan untuk mengolah buah mangrove menjadi tepung, kemudian mengembangkannya menjadi aneka camilan dan makanan bergizi untuk pasar lokal. Produk tersebut juga diarahkan agar memiliki kualitas yang lebih baik sehingga dapat memiliki daya saing sebagai produk oleh-oleh.

Menariknya, pengembangan ini juga tak lepas dari keterlibatan mama-mama Friwen. Sekitar 35 perempuan mendapatkan peran dalam pengelolaan bisnis rumahan, mulai dari penetapan harga hingga manajemen pesanan secara kolektif.

Upaya Masyarakat dalam Restorasi Mangrove

mama Friwen

Mangrove Doredor merupakan wilayah adat yang dijaga dan dilindungi oleh masyarakat Kampung Friwen. Perannya sangat krusial sebagai central pemijahan ikan di Selat Dampier Raja Ampat Papua Barat Daya.

Sayangnya, tutupan mangrove selama 10 tahun (2009-2019) mengalami perubahan. Tingkat kerusakannya mencapai 57% atau setara 133 Ha dari total luasan hutan mangrove 233 Ha. Penyebabnya adalah pemenuhan kebutuhan pasokan kayu untuk industri pariwisata di Raja Ampat.

Tak berlepas tangan, Kelompok Tani Mangrove (KTM) melakukan aksi nyata dengan melakukan restorasi mangrove dari tahun 2019 hingga 2023.

Beberapa hal yang dilakukan:

  1. Pembibitan, persemaian dan penanaman di kawasan yang mengalami kerusakan.
  2. Pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal dalam peningkatan ekonomi masyarakat.
  3. Jasa lingkungan dan program adopsi mangrove bagi wisatawan.

Dalam hal ini, perempuan memiliki andil besar dalam menjaga kasawan hutan mangrove. Bung Steve menyebutkan,

“Karena ada hutan, perempuan bisa hidup. Sebuah statement yang bisa jadi refleksi. Bahwa perempuan juga punya peran dan suara yang kuat. Ketika perempuan itu kuat, maka bangsa itu juga kuat. 90% perempuan menggabtungkan kehidupannya di wilayah pesisir dan memanfaatkan mangrove sebagai bahan pangan.”

Aku jadi melihat mangrove dari sudut pandang yang berbeda.

Mangrove bukan hanya sesuatu yang harus dilindungi manusia. Mangrove juga bisa memberikan manfaat bagi manusia, selama pemanfaatannya dilakukan dengan cara yang menjaga keberlanjutan ekosistemnya.

Dijelaskan juga pentingnya zonasi antara kawasan yang harus dilindungi secara ketat dan kawasan yang dapat dimanfaatkan secara terbatas. Area tertentu dapat dialokasikan untuk pemanenan buah mangrove dan biota laut sehingga kegiatan ekonomi tidak mengganggu fungsi ekologis hutan mangrove.

Melalui kemitraan The Asia Foundation (TAF) dan Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA) menghadirkan Program PAPeDA 4 dan PAPeDA 5. Program ini mulai membuka ruang bagi banyak perubahan di Kampung Friwen.

Di sinilah aku menemukan sebuah pelajaran penting, konservasi dan pangan tidak selalu harus dipertentangkan.

Keduanya bisa berjalan bersama ketika masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaannya.

Baca Juga: Karbon Biru untuk Kelanjutan Membirukan Indonesia

Dari Raja Ampat, Aku Berpikir tentang Porang di Bantur

Setelah mendengar cerita tentang mangrove di Raja Ampat, aku jadi bertanya pada diriku sendiri:

Kalau di Raja Ampat ada mangrove yang memiliki fungsi ekologis sekaligus potensi pangan, bagaimana dengan tanaman di daerahku sendiri?

tanaman porang

Sebagai orang yang tinggal di Malang, aku kemudian teringat pada salah satu tanaman yang mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat di wilayah selatan Malang: porang.

Di Desa Rejosari, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, porang dikembangkan oleh masyarakat sebagai salah satu komoditas pertanian. Penelitian mengenai petani porang di wilayah tersebut menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu sumber pendapatan bagi petani.

Keunggulan Porang, Tanaman Fungsi Ganda yang Banyak Dicari

Salah satu keunggulan utama porang (Amorphophallus muelleri) berasal dari kandungan glukomanan, yaitu serat pangan larut air yang terdapat dalam umbinya. Senyawa ini membuat porang memiliki beragam potensi pemanfaatan, baik sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri.

Porang sebagai Pangan dan Pendukung Pola Hidup Sehat

Glukomanan dalam porang memiliki kemampuan menyerap air dan membentuk tekstur seperti gel. Karena itu, konsumsi pangan berbahan porang dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dan kerap dikaitkan dengan pengaturan asupan kalori.

Selain itu, kandungan seratnya membuat porang berpotensi menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan pencernaan.

Porang sebagai Pangan dan Pendukung Pola Hidup Sehat

Produk berbahan porang juga banyak dikembangkan sebagai alternatif pangan rendah kalori dan rendah karbohidrat, seperti beras analog, konyaku, dan mi shirataki.

Glukomanan juga memiliki sifat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengental dan pembentuk tekstur. Karena karakter tersebut, turunannya dapat digunakan dalam berbagai produk pangan, seperti jeli, es krim, permen, saus, hingga produk olahan lainnya.

Bagaimana Porang Bisa Sampai Jadi Pangan?

pengolahan porang

Umbi porang tidak bisa begitu saja dipanen lalu dimasak seperti singkong atau kentang. Ada proses pengolahan umbinya terlebih dahulu.

Setelah dibersihkan dan dikupas, porang diiris tipis dan dikeringkan hingga menjadi chip. Chip tersebut kemudian dapat digiling menjadi tepung porang yang kaya glukomanan. Dari tepung inilah porang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan, mulai dari beras analog hingga mi.

Manfaat dalam Industri Non-Pangan & Farmasi

Menariknya, potensi porang juga meluas ke sektor non-pangan. Kandungan glukomanannya memiliki sifat yang membuatnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam sejumlah produk industri.

Turunan porang antara lain dikembangkan untuk kebutuhan farmasi, termasuk sebagai bahan pembentuk atau perekat dalam produk tertentu. Glukomanan juga memiliki potensi pemanfaatan dalam industri kosmetik dan berbagai produk perawatan.

Dalam industri lainnya, bahan berbasis glukomanan dapat digunakan untuk kebutuhan seperti tekstil, pembuatan kertas, perekat, hingga material tertentu.

Artinya, satu tanaman dapat memiliki rantai pemanfaatan yang cukup panjang, mulai dari pangan hingga berbagai kebutuhan industri.

Porang dan Keunggulan dalam Budidaya

Porang dan Keunggulan dalam Budidaya

Dari sisi pertanian, salah satu karakter menarik porang adalah kemampuannya tumbuh di bawah naungan. Tanaman ini dapat dibudidayakan pada kondisi dengan tingkat naungan tertentu, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan bersama pepohonan dalam sistem tumpang sari atau agroforestri.

Karakter tersebut membuat porang menarik untuk dikaitkan dengan pemanfaatan lahan secara lebih beragam. Di bawah tegakan pohon, masyarakat tidak hanya dapat mempertahankan keberadaan pepohonan, tetapi juga memperoleh hasil dari tanaman yang tumbuh di bawahnya.

Peran Porang Bagi Lingkungan

1. Mengurangi Erosi Tanah

Tutupan tanaman porang di permukaan tanah relatif rapat sehingga dapat membantu melindungi tanah dari terpaan air hujan dan mengurangi tanah yang terlepas atau terbawa aliran permukaan.

2. Membantu Meningkatkan Infiltrasi Air

Akar dan umbi porang dapat membantu memperbesar masuknya air ke dalam tanah. Keberadaan porang dikaitkan dengan peningkatan infiltrasi air sehingga tidak seluruh air hujan langsung menjadi aliran permukaan.

3. Membantu Menjaga Struktur Tanah

Sistem agroforestri dengan porang dilaporkan dapat meningkatkan stabilitas agregat tanah. Ini penting karena tanah yang lebih stabil cenderung lebih tahan terhadap proses degradasi dan erosi.

4. Menambah Bahan Organik Tanah

Batang dan daun porang relatif cepat melapuk sehingga dapat berkontribusi terhadap penambahan bahan organik tanah.

Menanam Harapan dari Apa yang Kita Punya

Menanam Harapan dari Apa yang Kita Punya

Mungkin inilah yang membuat saya merasa isu perubahan iklim sebenarnya tidak selalu sejauh yang kita bayangkan.

Kita bisa membicarakannya di forum internasional. Kita bisa mendiskusikannya dalam berbagai konferensi dan agenda seperti Bangkok Climate Action Week 2026. Kita bisa membicarakan energi bersih, ekonomi hijau, ketahanan pangan, dan berbagai solusi lainnya.

Tetapi di sisi lain, ada masyarakat yang sudah menjalankan sebagian dari semangat itu dalam kehidupan sehari-hari.

Ada masyarakat yang menjaga mangrove karena mereka tahu laut adalah sumber kehidupan.

Ada mama-mama Friwen yang mengolah buah mangrove menjadi pangan dan produk ekonomi.

Ada petani yang mengembangkan porang sebagai komoditas pangan dan pendapatan.

Buatku, cerita-cerita seperti inilah yang membuat aksi iklim terasa lebih dekat. Pada akhirnya, cerita tentang mangrove di Raja Ampat dan porang di Bantur bukan hanya cerita tentang dua jenis tanaman.

Apakah kita hanya melihat mangrove sebagai pohon di tepi laut?

Apakah kita hanya melihat porang sebagai umbi yang bisa dijual?

Atau kita mau melihat hubungan yang lebih besar di baliknya?

Mangrove menjaga ekosistem sekaligus mendukung sumber pangan masyarakat. Porang dapat menjadi sumber pangan dan penghasilan sekaligus menjadi bagian dari sistem budidaya yang berdampingan dengan pepohonan.

Aku belajar bahwa ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan seharusnya tidak berjalan di jalur yang berbeda. Semuanya bisa berjalan beriringan bersama dan membantu masa depan manusia yang berkelanjutan.

Dari akar mangrove di Raja Ampat hingga umbi porang di Bantur, harapan ternyata bisa tumbuh dari alam yang dekat dengan kita. Dan ketika kita menjaga apa yang tumbuh hari ini, sebenarnya kita sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar: kemungkinan bahwa generasi berikutnya masih memiliki pangan, lingkungan, dan kehidupan yang layak untuk diwariskan.

#Ecobloggersquad #theasiafoundation #JagaMangroveJagaRajaAmpat #merawatmimpi #menumbuhkaninspirasi

Tinggalkan komentar