Musim Salju di Gunung: Destinasi Winter Hiking yang Lagi Hits buat Pendaki Indonesia

Musim Salju di Gunung

Buat pendaki Indonesia yang terbiasa dengan gunung tropis, mendaki di tengah salju bisa menjadi pengalaman yang benar-benar berbeda. Bukan hanya soal suhu yang jauh lebih rendah, tetapi juga jalur yang berubah menjadi putih, pepohonan diselimuti frost, hingga pemandangan pegunungan yang terlihat seperti berada di negeri dongeng.

Karena itu, winter hiking mulai menarik perhatian wisatawan yang ingin mengombinasikan aktivitas outdoor dengan pengalaman musim dingin. Namun, perlu diingat bahwa hiking di gunung bersalju bukan sekadar mendaki dengan jaket tebal. Kondisi jalur, es, cuaca, hingga perlengkapan khusus harus menjadi pertimbangan utama.

Jika ingin mencoba sensasi tersebut, beberapa destinasi berikut bisa masuk radar.

1. Hallasan, Korea Selatan

Hallasan di Pulau Jeju menjadi salah satu pilihan menarik bagi pendaki yang ingin mencoba hiking di tengah salju tanpa langsung menghadapi medan ekstrem. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.950 meter dan merupakan gunung tertinggi di Korea Selatan. Otoritas pariwisata Jeju juga secara khusus merekomendasikan beberapa jalurnya untuk menikmati lanskap musim dingin.

Salah satu yang menarik adalah Eorimok Trail dengan panjang sekitar 6,8 kilometer menuju Witse Oreum. Pada musim dingin, jalurnya dapat tertutup salju sehingga pendaki mendapatkan suasana seperti winter wonderland.

Namun, cuaca Hallasan dapat berubah cepat. Salju, es, kabut, dan perubahan kondisi jalur membuat pendaki tetap perlu mengecek kondisi terbaru sebelum berangkat. Untuk musim dingin, perlengkapan antiselip atau spikes pada sepatu juga direkomendasikan.

2. Seoraksan, Korea Selatan

Seoraksan, Korea Selatan

Kalau ingin mendapatkan lanskap pegunungan Korea yang lebih dramatis, Seoraksan National Park layak dipertimbangkan. Kawasan ini memiliki lebih dari 10 jalur pendakian dengan tingkat kesulitan dan durasi yang beragam. Puncak tertingginya, Daecheongbong, mencapai sekitar 1.707 meter dan menurut Korea Tourism Organization dapat tertutup salju selama lima hingga enam bulan dalam setahun. 

Menariknya, winter trekking di Korea tidak selalu berarti harus menaklukkan puncak. Korea Tourism Organization menyebut sejumlah jalur hutan dan punggungan yang tetap dapat dinikmati pada musim dingin, termasuk kawasan Deogyusan dan Hambaeksan. Beberapa area bahkan memiliki akses gondola sehingga wisatawan bisa mendekati lanskap bersalju tanpa melakukan pendakian panjang. 

3. Tateyama, Jepang

Bagi pendaki yang mencari pemandangan salju lebih spektakuler, kawasan Tateyama di Jepang menawarkan pengalaman yang berbeda. Salah satu daya tariknya adalah Tateyama Snow Corridor, jalur sepanjang sekitar 500 meter yang dikelilingi dinding salju raksasa.

Menurut Japan National Tourism Organization (JNTO), dinding salju di kawasan Murodo dapat mencapai sekitar 20 meter. Snow Corridor biasanya dapat dinikmati mulai pertengahan April hingga sekitar pertengahan Juni, dengan kondisi dinding salju terbesar pada awal musim. 

Perlu dicatat, pengalaman di Tateyama tidak semuanya berupa summit hiking. Sebagian atraksinya merupakan winter sightseeing dan snow walking. Untuk pendakian gunung yang lebih serius, JNTO menyebut bahwa pendaki berpengalaman membutuhkan perlengkapan seperti crampon dan merekomendasikan ice axe untuk kondisi tertentu. Pendaki kasual justru disarankan memilih musim yang lebih aman. 

4. Tateyama Kurobe Alpine Route, Jepang

sustainable tourism

Masih di kawasan Tateyama, Tateyama Kurobe Alpine Route cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati gunung bersalju tanpa harus melakukan ekspedisi pendakian ekstrem.

Rute ini menggabungkan beberapa moda transportasi, seperti kereta, cable car, bus, dan ropeway. Salah satu titik utamanya adalah Murodo yang berada di ketinggian sekitar 2.450 meter. Di sinilah wisatawan dapat menikmati Snow Walls dan panorama pegunungan bersalju. 

Destinasi ini menarik untuk pendaki pemula yang ingin mengenal suasana alpine terlebih dahulu sebelum mencoba winter hiking dengan medan yang lebih menantang. Pada saat yang sama, wisatawan dapat menerapkan prinsip sustainable tourism dengan tidak meninggalkan sampah, mengikuti jalur yang ditentukan, serta menghormati aturan kawasan konservasi agar aktivitas wisata tidak menambah tekanan terhadap lingkungan pegunungan.

5. Hallasan untuk Sensasi Snow Trekking yang Lebih Ringan

Tidak semua pengalaman winter hiking harus berakhir di puncak. Hallasan kembali menjadi pilihan menarik karena beberapa jalurnya menawarkan pemandangan salju tanpa mengharuskan pendaki mencapai puncak.

Informasi resmi pariwisata Jeju menyebut Eorimok, Yeongsil, dan kawasan Witse Oreum sebagai pilihan yang cocok untuk menikmati hiking musim dingin. Eorimok bahkan memiliki bagian jalur yang relatif lebih landai setelah tanjakan awal. 

Bagi pendaki Indonesia yang baru pertama kali berhadapan dengan salju, konsep seperti ini bisa menjadi transisi yang lebih masuk akal daripada langsung memilih ekspedisi alpine. Persiapannya pun tidak hanya berkaitan dengan pakaian, tetapi juga kebutuhan selama perjalanan, seperti membawa botol minum reusable. Bahkan, bagi rombongan atau komunitas pendaki, penggunaan perlengkapan yang dapat dipakai kembali, termasuk mug promosi sebagai merchandise perjalanan, dapat menjadi alternatif dibandingkan terus menggunakan wadah minuman sekali pakai.

Baca Juga: Ritual Traveling ke Jepang, Panduan Buat Para Backpacker Pemula

Jangan Samakan Winter Hiking dengan Mendaki Gunung Tropis

Hal paling penting sebelum mencoba winter hiking adalah memahami bahwa salju dapat mengubah karakter jalur secara signifikan. Permukaan yang terlihat mudah bisa menjadi licin karena es, sementara kabut atau badai salju dapat mengurangi jarak pandang.

Karena itu, pilih destinasi berdasarkan kemampuan, bukan hanya karena foto pemandangannya terlihat menarik. Periksa status jalur, cuaca, jam operasional, dan aturan pendakian dari pengelola resmi sebelum berangkat. Untuk jalur bersalju, sepatu dengan grip baik, perlindungan terhadap air dan dingin, serta perlengkapan antiselip menjadi jauh lebih penting dibandingkan saat mendaki gunung di Indonesia.

Winter hiking memang menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di gunung tropis. Namun, daya tariknya bukan hanya salju yang Instagramable. Justru perubahan medan dan kondisi cuaca itulah yang membuat persiapannya harus lebih serius.

Tinggalkan komentar